PONTIANAK – Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK)  bersama bersama Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara dan Citradaya Nita Pontianak mengadakan Workshop Perempuan dan Media, Jumat (14/2/2020).

Kegiatan ini dihadiri beberapa aktivis perempuan dan para jurnalis.

Workshop ini mengajak jurnalis perempuan yang ada di Kalimantan Barat untuk mengangkat isu positif tentang perempuan menjadi berita populer di masyarakat pembaca media massa.

Pembicara praktisi media yakni Leo Prima yang mengatakan perspektif media terkait isu-isu perempuan  cenderung mengedepankan tentang kekerasan serta sering terjadi kesenjangan.

“Fungsi media massa adalah untuk memberikan informasi kepada masyarakat, namun perempuan cenderung masih digunakan sebagai objek dalam media,” kata Leo, yang juga sebagai dosen Ilmu Komunikasi Universitas Tanjungpura.

Menurutnya, paradigma media masih menganggap isu terkait laki-laki masih penting.

Padahal kaum perempuan justru lebih banyak isu yang bisa diangkat.

“Sebanyak 60 persen pengguna media sosial adalah perempuan. Mereka mengakses sosmed secara implusif maupun kompulsif,” ujar Leo.

Sementara pada kenyataannya, perempuan merupakan pembaca terbesar media massa. Karena itu ia mengajak mengembangkan jurnalisme positif.

“Dahulu bad news is a good news. Sekarang bagaimana kita mengembangkan good news is a good news,” katanya.

Menonjolkan sosok positif sebagai perempuan. Ada banyak angle menarik yang bisa diangkat dalam sosok perempuan.

Media lama bisa membuat satu desk yang mengusung isu perempuan.

Saat ini menurut dia, liputan perempuan masih dianggap hal yang kecil bagi media lama yang menerapkan jurnalisme maskulin.

Sementara itu Ketua Jurnalis Perempuan Khatulistiwa (JPK) Pontianak, Aseanty Widaningsih Pahlevi, mengatakan perempuan masih dianggap lemah, tidak mandiri, dan emosi yang meledak.

“Sebaliknya, selalu diidentifikasi pada ranah rumah tangga. Pada posisi yang berbeda, hierarki gender menempatkan laki-laki sebagai gender perkasa, selalu menang, bertanggung jawab. Kontruksi gender dalam konteks patriarki membuat perempuan sulit untuk mengubah takdirnya,” jelasnya.

Stereotip yang melekat pada perempuan dan hierarki gender akhirnya menimbulkan persoalan baru yang terjadi pada masyarakat, sehingga melestarikan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan dan industri media.

“Isu perempuan sudah menjadi isu global, bagaimana seharusnya hal ini mendapat perhatian penting, tugas jurnalis adalah harus bisa mengemas isu ini menjadi isu populer,” katanya Levi, sapaan akrabnya.

Ketua Panitia Workshop Perempuan dan Peran Media, Wati Susilawati, menjelaskan saat ini isu perempuan sangat penting.

“Kita ingin membangun sinergitas dengan para aktivis dan media, agar dapat memberikan peran strategis dalam memberikan perubahan kepada masyarakat tentang perempuan,” ujarnya, usai kegiatan workshop.

Ia sangat mengharapkan, media memiliki kekuatan untuk melanggengkan beragam pandangan dan berupaya mendorong media agar menjadi lebih berkualitas dan sensitif gender, terutama perempuan.

Dikatakannya, saat ini media masih mengutamakan pemberitaan sensasional.

Maka dengan adanya workshop ini media dianggap menjadi alat yang efektif untuk menyuarakan persoalan gender dan perlindungan perempuan.

Share: