Dunia jurnalisme masih banyak yang menganggap profesi yang cocok untuk laki-laki saja. Padahal dalam sejarahnya, ada banyak perempuan yang memegang peran penting dalam profesi ini. Zaman sekarang, kebanyakan orang hanya mengenal Najwa Shihab atau Rosianna Silalahi yang meniti karir menjadi reporter hingga mempunyai acara sendiri. 

Dalam sejarah Indonesia, banyak perempuan yang menjadi jurnalis dan berpengaruh terhadap sejarah Indonesia bahkan menjadi pahlawan nasional. Tiga di antaranya ialah Rohana Kudus, S.K. Trimurti dan Herawati Diah yang dikenal sebagai tokoh jurnalis perempuan.

Rohana Kudus

Rohana Kudus menjadi wartawan perempuan pertama di Indonesia dan ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Joko Widodo pada November 2019. Rohana Kudus ialah perempuan pejuang asal Sumatera Barat yang lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam pada 20 Desember 1884.

Kepedulian Rohana terhadap nasib perempuan sangat besar. Ia mendirikan sekolah kerajinan Amai Setia untuk pribumi putri yang mengajarkan keterampilan. Tidak ingin berhenti di situ perjuangannya, Rohana mengirim surat kepada pemimpin redaksi surat kabar Oetoesan Melajoe, Datuk Sutan Maharadja.

Sumber gambar: Wikipedia

Dalam surat tersebut ia menyampaikan keinginannya agar perempuan diberi kesempatan memperoleh pendidikan yang sama dengan lelaki. Selain itu juga dirinya ingin surat kabar yang dipimpin Maharadja itu memberi ruang untuk tulisan perempuan. Maharadja pun tersentuh dan menemui Rohana langsung ke Koto Gadang.

Ketika bertemu, Rohana menyampaikan idenya bahwa tidak sebatas ruang untuk tulisan perempuan tapi juga menerbitkan surat kabar khusus perempuan. Namun Rohana tidak bisa mengurusnya sendiri karena masih berkutat dengan Sekolah Kerajinan Amal Setia yang didirikannya.

Maharadja pun mengusulkan anaknya, Ratna Juwita Zubaidah untuk mengurus keperluan surat kabar di Padang. Rohana pun setuju karena Ratna Juwita juga ikut menulis. Maka terbitlah Soenting Melajoe, surat kabar khusus perempuan yang dipimpin oleh Ratna dan Rohana.  

Kiprah Rohana dalam bidang jurnalistik tidak berhenti pada penerbitan Soenting Melajoe. Ketika pindah ke Medan tahun 1920, Rohana bekerjasama dengan Satiman Parada Harahap memimpin redaksi Perempuan Bergerak. Artikel yang Rohana tulis kebanyakan tentang ajakan pada kaum perempuan untuk lebih maju.

S.K. Trimurti

Perkenalan dunia tulis menulis Surastri Karma Trimurti alias S.K. Trimurti erat kaitannya dengan Sukarno. Saat baru berusia 20 tahun, Trimurti mendengar orasi dari Sukarno dan membuatnya tergugah untuk bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo / partai pecahan PNI pimpinan Sukarno).

Partindo konsisten berkampanye melalui surat kabar Suluh Indonesia Muda dan Fikiran Rakjat. Dari dua media tersebutlah Trimurti pertama kali mengenal dunia tulis menulis. Awalnya ia mengelak ketika Sukarno menyuruhnya menulis artikel di Fikiran Rakjat dengan alasan masih terlalu muda dan tidak punya pengalaman.

Sumber gambar: Wikipedia

Selain itu Trimurti juga belum terbiasa menggunakan mesin tik yang umum digunakan para jurnalis saat itu untuk menulis artikel. Ketika Sukarno dibuang ke Ende, Flores pada tahun 1934, Partindo bagai anak ayam yang kehilangan induk. Trimurti pun memilih untuk melanjutkan pengalamannya di bidang jurnalistik dengan mengirim tulisan-tulisannya ke surat kabar Berdjoeang yang berkantor di Surabaya.

Begitu cintanya kepada dunia jurnalistik, sejak tahun 1935 Trimurti melahirkan banyak majalah dan surat kabar. Mulai dari Bedug, Terompet, Suara Marhaeni, hingga majalah Pesat yang diterbitkannya bersama Sayuti Melik di tahun 1938. Ia sempat tidak ingin menikah karena takut menggugurkan partisipasinya dalam dunia pers.

Namun Sayuti Melik yang menjadi teman dekatnya kala itu meyakinkannya untuk menyeimbangkan antara karir jurnalistik dengan pernikahannya. Keduanya menjadi jurnalis yang produktif di era pergerakan kala itu. Surat kabar Sinar Selatan memuat tulisan Trimurti dan Sayuti selama 3 tahun dari 1937 hingga 1939 yang kemudian menyatukan mereka.

Kisah jurnalistik Trimurti tidak sepenuhnya lancar. Dirinya pernah diproses hukum di pengadilan kolonial karena memuat artikel yang berkampanye anti-imperialisme dalam majalah Pesat. Ketika Jepang datang menjajah pun majalah tersebut dibredel dan Trimurti berurusan dengan otoritas militer dan mendekam di penjara Blitar hingga 1943.

Namun hal tersebut tidak membuatnya menyerah. Selain soal kemerdekaan, artikel Trimurti juga kerap menyinggung emansipasi perempuan. Tidak heran banyak perempuan di zaman pergerakan tersebut banyak yang mengidolakannya.

Herawati Diah

Perjalanan karir Siti Latifah Herawati atau dikenal dengan nama Herawati sebagai jurnalis perempuan tidak terlepas dari sang ibu, Siti Alimah. Suatu hari, Alimah mendirikan media bernama Dunia Kita, tetapi ketika Jepang menjajah majalah tersebut tidak lagi terbit.

Setahun setelah kemerdekaan, Alimah menjual rumahnya untuk modal Herawati membuat majalah dengan nama Keluarga. Herawati pun menjadi wartawan dan menikah dengan teman satu profesinya yakni BM Diah hingga namanya dikenal Herawati Diah.

Pasangan tersebut menerbitkan harian Merdeka. Bahkan Herawati memimpin dua majalah yakni Merdeka yang terbit secara mingguan dan tentu titipan ibunya, majalah Keluarga. Hingga akhirnya Herawati Diah bersama suaminya membuat koran berbahasa Inggris, Indonesian Observer yang pertama kali terbit pada 1 Oktober 1964.

Sumber foto: Tempo.co

Sebagai wartawan perempuan yang telah menikah, Herawati menemukan tantangan agar kehidupannya seimbang. Baginya keluarga dan karir sama-sama penting. Beruntung suaminya berprofesi sebagai wartawan juga sehingga memahami pekerjaannya menyita waktu.

Herawati Diah pun kritis terhadap karir perempuan dalam jurnalistik akibat pembagian tugas dalam keluarga. Sebagai contoh, jarang wartawan pria bingung membagi waktu antara mengurus keuarga atau menyelesaikan deadline. Sementara perempuan sebaliknya. Padahal bila pembagian tugas dalam keluarga diubah secara mendasar, seorang perempuan bisa mengejar karirnya sebagai wartawan.

Sumber : 

https://historia.id/kultur/articles/mengenal-rohana-kudus-wartawan-perempuan-pertama-yang-jadi-pahlawan-nasional-Db2lQ/page/3 

https://tirto.id/kisah-sk-trimurti-mengagumi-dan-mengkritik-sukarno-ejgB 

https://historia.id/kultur/articles/herawati-diah-wartawati-brilian-penerus-jejak-sang-ibu-Pyq22/page/1

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *