Wangi bungong kupula (tanjung) yang pohonnya berjejer sepanjang jalan, meruap memenuhi udara. Kesejukan merambah dari sungai kecil di sisi jalan. Sore yang indah di Tanah Teuku Umar, Meulaboh, Aceh Barat. Sebuah rumah asri di kawasan Gampong Seuneubok tampak dipenuhi anak-anak muda. Di satu ruangan luas, masing-masing duduk melingkar, laptop di depan mereka. Menyimak pembicaraan perempuan muda berjilbab abu-abu yang bersimpuh di depan, Jumat, 12 Februari 2021.

Perempuan itu Mellyan. Kelahiran Meulaboh 33 tahun yang lalu. Sehari-hari dia meniti karier sebagai dosen Ekonomi Syariah di STAIN Teungku Dirundeng. Namun, sejak masa kuliah di Banda Aceh ia sudah terjun ke bidang jurnalistik dan literasi. Kerap mendapat penghargaan untuk karya-karya tulisnya, pada 2016 saat tengah rehat dari riset tesis S2-nya di UIN Ar Raniry, Banda Aceh, Mellyan menengarai bahwa Meulaboh belum memiliki wadah kreativitas bagi anak-anak muda.

“Saya lihat sebenarnya anak-anak muda Meulaboh ini punya potensi yang sangat besar. Tapi mereka tak ada yang mengarahkan,” kata Mellyan, akrab disapa Melly. “Saya merasa, kami punya sedikit ilmu yang dapat dibagikan. Dan kami ingin melakukan sesuatu untuk anak-anak muda ini.”

Setelah diskusi dan riset panjang dengan suaminya, Junaidi, yang juga seorang dosen dan jurnalis, akhirnya pada 14 April 2017 Basajan Creative School (BSC) berdiri. Dengan peserta awal sebagian besar mahasiswa STAIN Teungku Dirundeng dan Universitas Teuku Umar (UTU), kini BSC sudah memiliki alumni sebanyak empat angkatan.

Sejak awal berdiri, BSC sudah berhasil mengantarkan anak didiknya menjuarai berbagai kompetisi. Anggota Basajan, bahkan didapuk menjadi Duta Baca Kabupaten Aceh Barat berturut-turut mulai 2017, 2018, dan terakhir 2019.

Para anggota yang muda belia ini juga sudah jadi langganan kampiun berbagai kompetisi. Kompetisi film dokumenter tahunan Aceh Documentary Competition (ADC) besutan Aceh Documentary Misalnya, sudah beberapa kali dimenangi para anggota Basajan.  Demikian juga UTU Award untuk bidang desain website. Tahun 2020, anggota senior Basajan, Nurul Fahmi, berhasil menembus sepuluh besar Ide Terbaik Eagle Award (Ranger Leuser). Saking seringnya anggota Basajan memenangkan kompetisi, nama sekolah informal ini pernah dicatut orang, sebagai semacam “jaminan mutu” kreativitas.

Seseorang melamar kerja pada sebuah perusahaan, dalam CV-nya ia mengaku anggota Basajan. Tak mudah termakan kata-kata, pemilik perusahaan menelepon Junaidi untuk mengonfirmasi kebenarannya. Dan seperti sudah bisa diduga, apa yang ditulis dalam CV itu, tidak benar.

Ternyata, yang seperti itu bukan hanya sekali. Tapi berkali-kali. Sepertinya, untuk Aceh Barat dan Meulaboh, sebut beberapa sumber, nama Basajan sudah tidak asing lagi.

Namun, justru itu membuat Melly agak khawatir. “Kami harus hati-hati. Selain dapat berakibat pada nama baik Basajan, itu bisa saja menyebabkan anggota kami nanti kena sindrom ‘jago kandang’.”

Bukan tanpa alasan Melly mengatakan itu. Ditengarainya, memenangkan kompetisi ternyata bisa membuat orang “ke-pede-an” sehingga berpengaruh pada sikap mereka sehari-hari.

“Itu antara lain tantangan yang kami hadapi. Mengasah kreativitas anggota, mengarahkan mereka untuk menemukan ide-ide baru yang lebih berorientasi global, boleh dibilang cukup mudah. Tetapi menjaga agar mereka tetap di jalur kerendahhatian dan berintegritas, itu yang sulit,” kata Melly.

“Di Basajan, anggota perempuan prestasinya lebih menonjol. Dalam hal menulis, membuat liputan atau film, mereka juga menunjukkan kinerja yang lebih baik,” ujarnya lagi. Dia menuturkan ihwal film yang digarap dua anggotanya, Oka dan Sonya, yang mendokumentasikan klinik bidan tradisional. Juga ada Mariani, yang menelusuri buangan limbah tambang batubara berjudul Lautan Bara. Film dokumenter Lautan Bara memenangkan kompetisi ADC 2018 sementara Klinik Nenek (Oka dan Sonya) masuk ke dalam tiga besar ADC 2019.

“Dan dua-duanya dikerjakan oleh perempuan,” sebut Melly. “Mungkin karena curiosity perempuan lebih mendetail. Mereka tidak cepat puas dengan data awal, dan terus mengejarnya hingga ke seluk-beluk yang lebih dalam. Saat itulah bimbingan saya dan Abang terkadang mereka diperlukan.”

Perkembangan Basajan membuat Melly dan Jun, panggilan akrab Junaidi, memutuskan untuk mengembangkannya secara lebih spesifik sejak 2018.

“Basajan kami jadikan CV, namanya Basajan Creative Media, membawahi empat anak usaha. Sekarang ini selain BSC sudah ada Sigupai Sinema, Basajan Production, dan Basajan.net,” jelas Melly.

Basajan.net yang merupakan situs berita, digawangi sendiri oleh Junaidi. Selain para anggota Basajan, tugas-tugas liputan dilakukan anggota Basajan yang sudah senior.

“Ada dua belas anggota senior, yang sekarang turut mengelola BSC,” katanya lagi. Mellyan sendiri, di sela tugasnya sebagai dosen, juga masih melakukan liputan dan menulis untuk Basajan.net. “Saya masih memotori kelas Penulisan Kreatif, Sastra dan Jurnalistik,” tambahnya.

Putri sulung almarhum bapak Nyak Man bin Nyak Abbas dan ibu Cut Keumala ini, sejak remaja memang menyukai dunia tulis menulis.

“Lebih berkembang saat kuliah,” kata Melly, yang novel pendeknya, Hikayat Negeri Terapung, memenangkan Juara II Sayembara Menulis Cerita Bersambung Majalah Femina, Jakarta, 2013. “Selain penerbitan kampus, saya sempat bekerja untuk sebuah tabloid di Banda Aceh. Sempat juga menjadi kontributor di Aceh Feature, yang dikepalai Mbak Linda Christanty. Juga, melakukan investigasi tentang pelanggaran HAM masa lalu, untuk Koalisi NGO HAM Aceh,” cerita Melly. Perjalanan investigasinya ke pedalaman Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah, dan Bener Meriah meninggalkan kesan yang sangat dalam.

“Ngeri-ngeri sedap. Masa itu belum terlalu jauh dari masa konflik Aceh. Dan kami harus keluar masuk dusun, mengikuti informasi yang kami dapat dan harus ditelusuri kebenarannya,” kata Melly lagi. Tak jarang, Melly menemui situasi menegangkan yang seringkali terkait dengan statusnya sebagai jurnalis yang kebetulan berjenis kelamin perempuan.

“Ditatap sambil senyum-senyum, dimintai nomor telepon, bahkan suatu kali saya dan teman saya mengira bakal diculik,” Melly tertawa. Itu terjadi di Aceh Utara, saat sopir kendaraan yang disewanya menolak berhenti ketika Melly meminta. Rupanya hanya salah paham, Pak Sopir mengetahui tempat yang lebih baik daripada yang diminta Melly. “Tapi ya seram juga. Karena waktu itu sudah gelap.”

Hasil penelusuran selama tiga bulan itu menghasilkan dua buah buku. Diterbitkan oleh Koalisi NGO HAM Aceh. Salah satu buku, Fakta Bicara, disunting oleh jurnalis senior Nashrun Marzuki dan Adi Warsidi, sering dikutip oleh para pekerja kemanusiaan serta peneliti. Buku itu, menjadi semacam ‘kanon’ bagi penelusuran peristiwa pelanggaran HAM di Aceh. Novel Mellyan yang sempat memenangkan nomor pada lomba menulis novel Penerbit Madza, Malang, tokoh utamanya juga seorang penyintas konflik Aceh.

Menurut Melly, anak-anak muda yang ingin bergabung dengan Basajan tertarik karena melihat para seniornya yang sudah sukses. Pertama kali bergabung, biasanya sikap mereka serupa saja dengan anak-anak remaja yang serba ‘ingin lebih’ tapi serba enggan bekerja keras.

“Di Basajan, saat ini, tantangan terbesar saya adalah memicu minat baca para anggota,” kata Melly. “Lain dengan videografi dan fotografi yang ‘hasil cantik’nya langsung nampak, menulis memerlukan pendalaman. Dan salah satu cara pendalaman adalah dengan banyak membaca. Saya mencoba dengan mengajak mereka mendiskusikan buku-buku maestro nasional dan dunia. Tempat diskusi juga saya ganti-ganti, tidak selalu di Basajan. Sekali di warung kopi, sekali di pantai, saya coba agar mereka tidak jenuh dan bosan.”

Selama masa pandemi tahun lalu, Melly mencoba membangkitkan semangat membaca dan menulis para anggota dengan membuat sebuah program khusus. Program ini menghadirkan secara daring penulis pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2019, Azhari Aiyub. Untuk videografi, Basajan menjalin kerjasama dengan Aceh Documentary.

“Program kami diadakan di sepuluh sekolah menengah di Aceh Barat. Memperkenalkan dasar-dasar videografi dan dokumenter pada siswa sekolah menengah,” kata Melly.

Untuk tahun-tahun yang akan datang, Basajan akan konsisten di jalur pengembangan skill yang sesuai dengan tuntutan skil industri 4.0.

“Anggota kami sekarang sebagian besar adalah Gen Z. Modal awal mereka sudah melek teknologi, akrab dengan internet. Kita tahu, teknologi cepat sekali berkembang. Apa yang tren hari ini, besok pagi bisa saja kedaluwarsa. Kami di Basajan harus bergerak sama cepatnya. Termasuk dalam hal kreativitas,” kata Melly.

Menyudahi obrolan, kami berkendara ke Lhok Bubon, wilayah pesisir sekitar 30 menit dari Meulaboh. Ada sebuah masjid kuno di sana, yang konon digunakan Teuku Umar untuk menyusun siasat melawan Belanda. Dalam teduhnya mimbar Masjid Teuku Umar, Melly menyatakan rencananya untuk melanjutkan riset tentang berbagai tradisi Aceh Barat yang sudah mulai lekang oleh zaman. “Banyak kearifan lokal Aceh yang lebih dari layak untuk didokumentasikan dan dipreservasi,” kata Melly. “Semoga saya bisa menyusurinya dan menuliskannya semua.”

Penulis: Dian Hendrika Suksmadewi

Artikel ini di post pertama kali oleh Perempuan Leuser 

Link artikel: https://perempuanleuser.com/mellyan-membumikan-literasi-di-tanah-teuku-umar/

Share: