Tweet Helmi Indra pada 15 Juli 2021

Minggu, 15 Juli 2021 lalu, jagad maya diramaikan dengan utas akun Twitter @HelmiIndraPR yang menceritakan kesedihannya karena hoaks yang mengakibatkan ayahnya meninggal.

“Setelah pertarungan beberapa hari, Papa kalah perang melawan Covid-19. Apa yang menyebabkan Papa kalah? Hoax berperan besar dalam hal ini, di luar komorbid.”

Apa yang terjadi pada ayah Helmi menyadarkan masyarakat bahwa hoaks bisa sangat berdampak, dan bahkan memakan korban jiwa. Ayah Helmi yang meninggal pada 14 Juli lalu, adalah satu dari sekian banyak korban hoaks di Indonesia.

Inggried Wedhaswary, Editor Kompas.com, mengatakan, untuk bisa mengetahui apa itu hoaks perlu memahami soal misinformasi dan disinformasi.

“Misinformasi adalah informasi salah yang dipercayai orang dan disebarkan. Sedangkan disinformasi adalah informasi salah dan sengaja disebarkan oleh orang. Penyebaran misinformasi dan disinformasi bisa menyebabkan kerugian bagi individu dan masyarakat,” ungkap Inggried saat menjadi narasumber Training of Trainers Jurnalis Warga yang diadakan oleh Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) secara daring pada Kamis, 22 Juli 2021.

Menurut Inggried, permasalahan misinformasi dan disinformasi semakin mengkhawatirkan dengan tingginya aktivitas berinternet masyarakat Indonesia saat ini. Berdasarkan Survei Literasi Digital Nasional yang dilakukan Kominfo tahun 2020, sebanyak 76 persen responden mendapatkan informasi dari media sosial.

Survei Literasi Digital Nasional tahun 2020
Sumber: Aptika.kominfo.go.id

Sebanyak 55,2 persen responden menyatakan WhatsApp adalah media yang paling dipercaya, diikuti oleh Facebook ( 27 persen). Padahal, dalam survei yang sama, 71,9 persen responden menyatakan sering menemukan hoaks di Facebook dan 31,5 persen sering menemukan hoaks di WhatsApp.

Survei Literasi Digital Nasional tahun 2020
Sumber: Aptika.kominfo.go.id

Inggried mengatakan permasalahan ini mengingatkan betapa pentingnya menganalisis sumber informasi, melakukan penelusuran, dan memanfaatkan perangkat cek fakta.

“Terdapat lima pilar untuk melakukan verifikasi sumber di media sosial, yaitu mencari tahu asal usul informasi, mengetahui sumber informasi, memastikan kapan dan di mana informasi dibuat, dan memastikan apa tujuan dibuatnya informasi,” jelas Inggried.

Lebih lanjut, Inggried menjelaskan, terdapat lima langkah yang bisa dilakukan untuk memverifikasi, yaitu verifikasi melalui reverse image, menelusuri sumber utama, memverifikasi informasi ke media terpercaya atau jurnal, mengonfirmasi dengan menelpon ahli, atau mengecek di situs rujukan.

Mengecek situs rujukan penting untuk mengetahui apakah informasi yang beredar sudah diverifikasi oleh fact checker di media-media mainstream. Beberapa sumber rujukan yang bisa dipercaya adalah cekfakta.com, Lapor Hoaks Kominfo, cekfakta.tempo.co, cekfakta.kompas.com, dan turnbackhoax.id.  

Selain Inggried, pembicara lain yang hadir dalam acara ini adalah Andi Muhyiddin dari Aliansi Jurnalis Independen; Direktur Eksekutif Safenet, Damar Juniarto; founder Kompasiana, Pepih Nugraha; dan Managing Editor Kompas.com, Heru Margianto.

ToT ini sendiri diikuti oleh 16 peserta dari perwakilan organisasi Gerakan Anti Korupsi di Aceh, Serikat Perjuangan Rakyat Indonesia di Jakarta, Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) di Yogyakarta, dan Yayasan Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat di Maluku.

Nantinya, para peserta ToT diharapkan akan bisa membangun komunitas jurnalis warga di wilayah masing-masing dan menjadi bagian dari gerakan bersama menangkal hoaks, serta mampu menyajikan informasi yang berkualitas bagi komunitas mereka.

Penulis: Akbar Restu Fauzi, Program Officer PPMN.

Share: