Sebanyak 15 jurnalis dari tujuh negara di Asia mengikuti pelatihan jurnalisme data tentang isu pemilu yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) pada 24 April – 15 Mei 2021 lalu.

Pelatihan yang diselenggarakan di bawah program The Asia-Pacific Regional Support for Elections and Political Transitions (RESPECT)—program kerjasama PPMN dengan Perkumpulan Pemilu dan Demokrasi (Perludem)—ini melibatkan tiga trainer dari  Indonesia, Malaysia, dan Filipina.

Pelatihan dilangsungkan secara daring setiap hari Sabtu selama empat pekan dengan durasi masing-masing sekira tiga jam. Lewat pelatihan ini, diharapkan kapasitas para jurnalis meningkat dalam hal mengolah dan menarasikan data, terutama terkait isu pemilu, dan mempublikasikannya sebagai sebuah laporan jurnalistik.

Ke-15 jurnalis tersebut berasal  dari Indonesia, Filipina, Malaysia, Nepal, Thailand, Timor Leste, Vietnam, dan Mongolia. Keragaman peserta pelatihan membuat diskusi menjadi dinamis dan peserta bisa mempelajari kondisi demokrasi dan keterbukaan data pemilu di berbagai negara.

Di dalam pelatihan ini, para jurnalis mempelajari soal prinsip-prinsip bekerja dengan data, cara mengakses dan mengolahnya, serta menyajikannya dalam bentuk berita dengan visualiasi yang menarik.

Wan Ulfa Nur Zuhra, Direktur Eksekutif Indonesia Data Journalism Network (IDJN) yang menjadi trainer untuk sesi tentang “Data Journalism: Concepts and Framework” dan “Using Data for Meaningful Storytelling” menjelaskan bahwa  pada dasarnya jurnalisme data adalah tentang mengajukan pertanyaan mengenai angka dan data, serta membuktikan apa yang yang sedang terjadi dan mungkin tersebar luas, melalui data dan angka.

“Data dapat menjadi sumber jurnalisme data atau dapat menjadi piranti untuk menceritakan sebuah kisah atau bisa menjadi keduanya,” ungkap Wan Ulfa mengutip Paul Bradshaw, akademisi dari Birmingham City University.

Sementara Deputy Executive Director Philippine Center for Investigative Journalism (PCIJ), Floreen Simon yang menjadi narasumber pada sesi “Aiming for Better Election Coverage”  juga menjelaskan bahwa dengan jurnalisme data, jurnalis membuka kemungkinan baru untuk menggabungkan nalar  menulis berita dan kemampuan menyajikan berita yang menarik, dengan jangkauan informasi digital yang sekarang tersedia.

Koordinator Sinar Project Malaysia, Khairil Yusof, yang mengisi sesi pelatihan terkait  bekerja dengan data, menjelaskan betapa pentingnya menguasai dan bekerja menggunakan Google Search Engine, menggunakan spreadsheet dan membersihkan data, serta mengimpor data menjadi berita.

Pelatihan jurnalisme data ini merupakan rangkaian kegiatan PPMN di bawah program RESPECT untuk mendorong makin banyak lahirnya produksi karya jurnalistik tentang  pemilu berbasis data di kawasan Asia, khususnya Asia Tenggara. Pada Januari 2021, PPMN di bawah program yang sama juga telah meluncurkan portal data pemilu (Datatalk.asia) yang berisi dataset pemilu dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Untuk saat ini, portal data tersebut baru berisi dataset dari tiga negara (Indonesia, Filipina, Malaysia). Ke depan diharapkan akan banyak negara lain di kawasan Asia Tenggara, bahkan Asia Pasifik, yang akan terlibat dalam proyek kolaborasi ini.

Di tahun 2021 ini pula, PPMN juga kembali menyelenggarakan ExcEl Award, sebuah kompetisi jurnalistik dua tahunan untuk mencari laporan jurnalistik terbaik tentang pemilu yang dibuat oleh para jurnalis di kawasan Asia Tenggara. Kompetisi yang dibuka hingga tanggal 30 Juni 2021 melibatkan akademisi dan jurnalis senior dari lima negara sebagai juri. Mereka adalah Hermien Y.Kleden (Indonesia), Tess Bacalla (Filipina), Cherian George (Singapura), Pravit Rojanaphruk (Thailand),  dan  Kuang Keng Kuek Ser (Malaysia). (Akbar Restu Fauzi)

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *