Anggota JW Solo berpose di sela-sela kegiatan. Foto diambil oleh tim JW Solo

Sebuah pesan Whatsapp masuk ke telepon seluler Misbahul Arifin (23) beberapa hari setelah pemilihan walikota Solo digelar. Isinya, teguran atas tulisan yang dibuat Mishabul di  AtmaGo, sebuah situs yang mempublikasikan tulisan jurnalis warga.

Pesan WA tersebut menyoal liputan Misbahul yang mengkritisi penerapan protokol kesehatan di sebuah Tempat Pemungutan Suara (TPS) di Solo. Sang penulis pesan, yang kebetulan adalah juga petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS), mengancam Misbahul untuk pindah rumah. Misbahul bergeming.

Tumbuh sebagai difabel netra membuat Misbahul  terbiasa menghadapi masalah. “Saya merasa melakukan hal yang benar. Indonesia ini kan negara hukum. Kalau ia merasa bahwa saya berbuat salah, silakan lapor ke polisi,” ungkap Misbahul kepada penulis, Senin 15 Maret 2021.

Ika Yuniati, jurnalis Solo Pos yang menjadi mentor Misbahul di kegiatan pemberdayaan jurnalis warga yang diprakarsai Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) di bawah program The Asia-Pacific Regional Support for Elections and Political Transitions (RESPECT), sempat cemas dengan situasi Misbahul. Namun Misbahul meyakinkan Ika untuk tak khawatir. Misbahul merasa bahwa ia sudah menulis dengan standar jurnalistik yang benar. Ia menyajikan fakta dan memverifikasinya dengan sejumlah narasumber.

Tulisan berjudul Mempertanyakan Wacana Prokes dan Aksesbilitas Difabel di Masa Pilkada tersebut dipublikasikan secara berseri (total empat seri) per 11 Desember 2020 atau dua hari setelah pelaksanaan pilkada digelar.  Tulisan berkisah tentang tidak diimplementasikannya prokes di sebuah TPS di Solo  berdasarkan pengalaman para difabel (dalam hal ini termasuk Misbahul). Namun tulisan tersebut juga menceritakan penerapan prokes yang baik di TPS lainnya dan kemudahan akses bagi para pemilih difabel.

Meskipun serial tulisan tersebut adalah liputan pertama yang dibuat Misbahul sebagai jurnalis warga, respon yang muncul terhadap tulisan itu cukup luas dan positif. Ketua KPUD Solo Nurul Sutarti bahkan mengontak langsung Misbahul untuk mengonfirmasi informasi tersebut dan berterima kasih karena Misbahul telah menuliskannya. Entah karena kontak ini atau bukan, pengirim pesan ancaman ke WA Misbahul beberapa hari kemudian mengirim permintaan maaf.

 

Kurang percaya diri

Meski tulisannya mendat respon luas dan bahkan mendapatkan penghargaan dari PPMN di akhir program, Misbahul mengaku pada awalnya ia kurang percaya diri bergabung dalam komunitas jurnalis warga Solo yang dikelola PPMN.

“Saya diajak Mbak Astuti dari Solider,” ujar lelaki kelahiran Kudus ini. Solider.or.id adalah website berita yang dikelola oleh Sasana Inklusi & Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB), sebuah organisasi nirlaba yang berkantor di Yogyakarta. Astuti berhasil meyakinkan Misbahul untuk bergabung dalam komunitas JW Solo-PPMN yang dimentori oleh Ika. Misbahul menjadi satu-satunya anggota dalam komunitas tersebut yang difabel.

Ketidakpercayaan diri Misbahul sama sekali tidak muncul dari keterbatasan fisiknya, tapi dari kekurangyakinan dengan kemampuan jurnalistiknya. “Pengalaman saya selama ini hanya menulis opini untuk majalah, sementara anggota lain tulisannya (dalam format berita-red) sudah dimuat di mana-mana,” ungkap Ketua Ikatan Tuna Netra Muslim Indonesia Cabang Solo ini.

Suasana salah satu workshop yang diadakan tim JW Solo dengan proktol kesehatan di sebuah cafe. Misbahul menjadi satu-satunya anggota JW yang berkebutuhan khusus. Foto diambil tim JW Solo

Namun seiring waktu, kepercayaan diri Misbahul tumbuh. Pelatihan penulisan dan mentoring yang dilakukan dalam komunitas ini membangun kepercayaan diri  Misbahul. Ia juga belajar tentang isu pemilu dan hak-hak kelompok difabel terkait akses pemilu lewat sejumlah narasumber kompeten yang dihadirkan dalam pelatihan dan mentoring yang berlangsung selama empat bulan tersebut. Ia juga leluasa mengontak Ika untuk mendiskusikan liputan yang hendak ia bikin atau pun hal-hal lain yang ingin ia dalami terkait  jurnalistik.

Itu sebabnya saat ada yang memprotes tulisannya, Misbahul tak gentar. “Saya membawa fakta dan bukti, bukan opini,” ujarnya. Dari komunitas jurnalis warga itulah Misbahul belajar bahwa penulisan berita diharamkan memasukkan opini jurnalis atau penulisnya.

Lelaki yang mulai kehilangan penglihatannya secara total saat kelas 6 SD ini juga meyakini bahwa data dan fakta adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan di era saat ini.  Ia prihatin dengan maraknya disinformasi yang membuat orang gampang menjadi hakim bagi sesamanya hanya berdasarkan informasi yang mereka peroleh dari Internet yang belum tentu benar. Mantan koordinator takmir Masjid Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo  ini juga kerap kesal dengan orang yang gemar membawa-bawa agama untuk mencari pembenaran.

Misbahul berjanji untuk terus mengasah kemampuan jurnalistiknya, meski program JW-PPMN berakhir. “Dari komunitas ini saya juga akhirnya tahu di mana dan kemana saya bisa mempublikasikan liputan-liputan jurnalistik yang saya buat,” tambah alumni Fakultas Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), UNS ini.

Bagi Misbahul, kemampuan jurnalistik yang dimilikinya menjadi salah satu senjata untuk mengikis disinformasi. Keterbatasan fisiknya sama sekali bukan kendala untuk berbuat sesuatu yang baik bagi publik. Ia meyakini ini sejak awal. “Penglihatan hilang tidak membuat dunia kita hilang,” demikian Misbahul. (Fransisca Ria Susanti)

Share:

Leave a Reply