Pelatihan untuk Para Trainer 

Sebanyak 16 individu dari Aceh, Jakarta, Yogyakarta dan Papua mengikuti Training of Trainers Jurnalis Warga yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) pada 21, 22, dan 24 Juli 2021.

Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari ini merupakan bagian dari Program Democratic Resilience—program yang didukung oleh The Asia Foundation (TAF) dengan melibatkan PPMN sebagai mitra nasional untuk membangun dan menguatkan kapasitas jurnalis warga serta kampanye melawan disinformasi.

Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk mengelola komunitas jurnalis warga di wilayah masing-masing, guna menyokong kerja-kerja mitra lokal. Empat mitra lokal yang bekerja di bawah program ini adalah Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) di Aceh, Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS) di Yogyakarta, Serikat Perjuangan Rakyat Indonesia (SPRI) di Jakarta, dan Yayasan Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (YPPM) di Maluku.

Ke-16 peserta tersebut berasal  dari berbagai latar belakang, seperti staf organisasi mitra, pendamping komunitas, dan jurnalis warga. Keragaman peserta pelatihan memperkaya diskusi yang terjadi dalam pelatihan, baik secara isu maupun konteks wilayah.

Melalui pelatihan ini, jurnalis mempelajari perbedaan antara jurnalisme dan jurnalisme warga, kemampuan dasar jurnalistik, mobile journalism, peran jurnalis warga dalam melawan hoaks, manajemen komunitas jurnalisme warga, dan bahaya dari UU ITE.

Heru Margianto, Managing Editor Kompas.com yang menjadi fasilitator dan trainer pada hari pertama, menjelaskan bahwa jurnalisme adalah kegiatan menghimpun berita, mencari fakta, dan melaporkan peristiwa, sedangkan jurnalisme warga adalah kegiatan partisipasi aktif yang dilakukan oleh masyarakat dalam kegiatan pengumpulan, pelaporan, analisis, serta penyampaian informasi dan berita.

“Dalam jurnalisme warga, masyarakat tidak hanya menjadi konsumen media tapi bisa juga terlibat dalam proses pengelolaan informasi itu sendiri,” ungkap Heru yang lebih dikenal dengan nama Embong.

Andi Muhyiddin, anggota Aliansi Jurnalis Independen, yang menjadi trainer pada hari kedua menjelaskan bahwa seluruh praktik jurnalisme, dengan kemajuan teknologi, bisa dilakukan melalui smartphone atau jamak disebut mobile journalism (Mojo). Mojo memungkinkan reporter untuk melakukan banyak aktivitas produksi dan distribusi dengan satu perangkat.

“Mojo juga memungkinkan adanya bentuk-bentuk baru penyajian informasi dan mendukung pendekatan jurnalisme yang lebih inlusif,”

Andi Muhyiddin, anggota Aliansi Jurnalis Independen.
 Pelatihan untuk Para Trainer 

Sementara Editor Kompas.com, Inggried Dwi Wedhaswary, yang menjadi narasumber pada sesi “Peran Jurnalis Warga dalam Menghentikan Penyebaran Hoaks” menjelaskan bahwa kemajuan teknologi juga berdampak pada persebaran hoaks di jagad maya.

“Maraknya hoaks menyadarkan kita pentingnya melindungi orang agar tidak salah informasi, baik dengan cara mencegah penyebaran misinformasi meluas, ataupun melakukan debunking setelah diketahui adanya sebaran misinformasi itu,”

Inggried Dwi Wedhaswary, Editor Kompas.com.
 Pelatihan untuk Para Trainer

Direktur SafeNet, Damar Juniarto yang menjadi trainer pada hari terakhir, juga menjelaskan bahaya lain yang penting diketahui peserta, yaitu ranjau dari Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Mengingat banyaknya pekerja pers justru dituntut, ditahan dan dihukum penjara karena UU ITE.

“Alih-alih ingin menegakkan keadilan, pemenjaraan adalah tujuan penggunaan UU ITE oleh para pelapor. Mereka ditahan atau dipenjara karena pasal-pasal di UU ITE mulai dari defamasi hingga ujaran kebencian,”

Damar Juniarto, Direktur SafeNet.

Sesi terakhir dari pelatihan diisi oleh Pepih Nugraha, founder Kompasiana, yang menjelaskan tentang manajemen komunitas jurnalis warga. Pepih menceritakan sejarah jurnalisme warga dan pengalamannya mendirikan Kompasiana sebagai etalase karya jurnalis warga.

“Hal terpenting dalam mengelola komunitas jurnalis warga itu turun ke lapangan, lalu kemudian ketemu orang-orang secara fisik, satukan visi, menjalin hubungan dengan berbagai pihak, lalu menghasilkan karya,”

Pepih Nugraha, Founder Kompasiana.

Penulis: Project Officer PPMN, Akbar Restu Fauzi.

Share: