Perjalanan Rollercoaster Kepemimpinan Perempuan di Media

“Perempuan, menikah atau tidak menikah, punya anak atau tidak, harus mengikuti rutinitas media yang bekerja tanpa kenal waktu. Bisa dari amat pagi atau subuh, jauh hingga malam, dan terus sampai weekend atau hari libur besar lainnya. Kami juga harus siap dengan penugasan mendadak keluar kota atau luar negeri, dengan jam kerja panjang, untuk kemudian mengerjakan reportase dengan deadline ketat. Belum lagi para pekerja media yang sifat reportasenya investigatif, yang artinya bisa menjadi berbahaya untuk keselamatan dirinya dan keluarga.” (Partisipan #6).

Kutipan di atas adalah hasil dari autoetnografi dalam riset “Tantangan dan Peluang Kepemimpinan Perempuan di Media Massa.” Sebuah cerminan dari gambaran kepemimpinan jurnalis perempuan yang bekerja di organisasi media massa. Dinamika tersebut menggambarkan bahwa jurnalis perempuan dalam menjalankan kewajibannya memikul tanggung jawab yang sama dengan jurnalis laki-laki.

PPMN dan tim akademisi yang didukung oleh Kedutaan Belanda di Indonesia yang juga memberikan dukungan dalam program gender dan media, membuat riset nasional ‘Gambaran dan Tantangan Pemimpin Perempuan di Media di Indonesia’. Penelitian ini melibatkan 258 jurnalis perempuan  pada 118 organisasi media di 30 provinsi dan dikombinasikan dengan autoetnografi kualitatif dari 7 perempuan pemimpin media.

Penelitian yang berlangsung sejak Maret-Mei 2021 ini menggabungkan metode penelitian kuantitatif (survei) dan kualitatif (autoetnografi dan focus group discussion/FGD) untuk mendapatkan gambaran secara komprehensif. Metode autoetnografi melibatkan tujuh perempuan yang menjadi pimpinan media massa, dimana selama 5-12 minggu mereka terlibat menuliskan jurnal refleksi pengalaman mereka sebagai jurnalis.

Hasil autoetnografi menunjukkan adanya kontra-narasi terhadap wacana yang mengatakan bahwa jurnalis perempuan adalah lemah. Stigma tidak kompeten, sensitif, emosional, dan mudah frustrasi yang selama ini menempel pada pimpinan perempuan tidaklah benar.

Hasil survei menunjukkan bahwa setidaknya ada enam hambatan kepemimpinan perempuan di media, yakni: 1. Hambatan sosial budaya, 2. hambatan kondisi struktur organisasi, 3. Hambatan yang berkaitan dengan proses internal organisasi, 4. hambatan personal yang berkaitan dengan latar belakang individu, 5. hambatan personal yang berkaitan dengan soft skill yang dimiliki individu, dan 6. hambatan personal yang berkaitan dengan rencana karir individu. Pola-pola hambatan pada kepemimpinan perempuan menempatkan hambatan di level organisasi sebagai hambatan utama, diikuti dengan hambatan individu, dan sosial budaya.

Sejalan dengan hasil autoetnografi, hasil survei menunjukkan bahwa gaya transformasional dan gaya transformative adalah dua gaya yang mendominasi kepemimpinan jurnalis perempuan di media massa. Jurnalis perempuan yang menghadapi hambatan kecenderungannya akan memiliki gaya berkesadaran gender yang semakin tinggi.

Riset ini menunjukkan bahwa metafora glass ceiling ataupun labirin kurang tepat dalam menggambarkan kondisi di Indonesia. Metafora glass ceiling menggambarkan bahwa kepemimpinan perempuan lancar tanpa hambatan hingga perempuan akan menduduki posisi puncak dan terhambat oleh langi-langit kaca yang selama ini tidak terlihat. Metafora labirin menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan mendapatkan hambatan di setiap belokan, setiap level, yang pada akhirnya membawa ke jalan buntu.

Perjalanan jurnalis perempuan di media massa Indonesia lebih tepat digambarkan dengan metafora rollercoaster atau kereta luncur, di mana awalnya landai, dia banyak bergulat dengan hambatan personalnya di awal karir lalu posisi itu akan semakin tinggi dan memacu adrenalin.

Di media manapun perempuan bekerja, hambatan sosial budaya (track) akan selalu ada, hambatan organisasi (speed) bisa disesuaikan, namun perlu dukungan pengaman atau setidaknya simbol-simbol bahwa perjalanan akan aman sehingga perempuan bisa menikmati perjalanan kepemimpinannya.

Riset ini diketuai oleh Ika Karlina Idris, associate professor di Monash University Indonesia, dengan anggota tim Elizarni: menyelesaikan master di bidang kajian budaya dan doktor di bidang Kepemimpinan dan manajemen Pendidikan, Ohio University, Amerika Serikat; Ratna Ariyanti, penerima beasiswa Fulbright yang saat ini sedang menempuh studi doktoral di bidang Jurnalisme, Ohio University, Amerika Serikat; Rini Sudarmanti, associate professor di Magister Ilmu Komunikasi, Universitas Paramadina; Ika Krismantari, pemimpin redaksi The Conversation Indonesia, Asisten Riset: Intan Putri Irani, lulusan program studi Hubungan Internasional Universitas Paramadina.

Peluncuran Hasil Riset dan Diskusi: Perjalanan Rollercoaster Kepemimpinan Perempuan di Media ‘Mendobrak Stigma, Mendorong Kuasa” telah diselenggarakan pada Senin, 25 Oktober 2021, dengan pembicara:
1. Associate Professor Ika Idris, Monash University Indonesia, Ketua Tim Peneliti
2. Profesor Emeritus Drew McDaniel, Universitas Ohio
4. Sunarti Sain, Pemimpin Redaksi Radar Selatan
5. Rini Yustiningsih, Pemimpin Redaksi Solopos Media Group
6. Ninuk Pambudy, Redaktur Senior Harian Kompas
7. Wahyu Dhyatmika, Sekjen AMSI Asosiasi Media Siber Indonesia
8. Andy Yentriyani, Ketua Komnas Perempuan

Moderator:
Yulia Supadmo, Pemimpin Redaksi RTV

Summary hasil riset bisa diakses di bawah ini:

Share: