Portal data mengenai pemilihan umum di Asia Tenggara, Datatalk.asia resmi diluncurkan pada Kamis, 28 Januari 2021. Peluncuran melalui ruang digital Zoom ini dilakukan Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) bekerjasama dengan Perkumpulan Pemilu dan Demokrasi (Perludem) melalui program RESPECT (The Asia-Pacific Regional Support for Elections and Political Transitions) dan didanai oleh US Agency for International Development (USAID). Adapun pengembangannya dilakukan bersama dengan Sinar Project Malaysia dan Philippine Center for Investigative Journalism (PCIJ) Filipina.

CoP RESPECT, Theresia Joice Damayanti menyatakan bahwa peluncuran situs Datatalk.asia merupakan titik awal dari komitmen bersama untuk membangun demokrasi di Asia yang lebih baik. Ia berharap, situs yang memuat berbagai dataset terkait pemilu tersebut dapat turut meningkatkan literasi publik terhadap pemilihan umum. “Kami ingin memberikan data yang kredibel dan relevan,” ujar Joice saat membuka acara peluncuran Datatalk.asia, Kamis, 28 Januari 2021.

Dalam kesempatan tersebut, Joice berterimakasih kepada mitra yang sudah mendukung pengembangan situs Datatalk.asia, termasuk Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), serta dukungan yang diberikan masyarakat Amerika melalui United States Agency for International Development (USAID). “Konsorsium bekerjasama untuk menyumbangkan dataset untuk portal ini. Organisasi ini mengkurasi data dan mencari cara menyebarkan data,” kata dia.

Anggota Bawaslu, Fritz Edward Siregar yang turut hadir dalam peluncuran Datatalk.asia mengungkapkan lembaganya mendukung pengembangan situs data pemilu di Asia Tenggara. Dengan memberikan data terkait pelanggaran dan sengketa pemilu di Indonesia, Fritz berharap Bawaslu dapat berbagi proses demokratisasi, khususnya mengenai pelanggaran pemilu kepada negara lain di Asia. “Kami mendukung Datatalk.asia dengan menyumbang data. Kita telah menyusun beberapa data yang pasti bisa diakses untuk wartawan, sehingga wartawan bisa memahami pelanggaran pemilu dan mendukung demokrasi,” kata Fritz Edward Siregar.

Datatalk.asia merupakan situs penyedia pelbagai data terbuka terkait pemilihan umum, khususnya data pemilih, hasil dan pelanggaran pemilu di Indonesia, Malaysia dan Filipina. PPMN bersama mitra sejak 2018 telah mengumpulkan data dengan berbagai format yang mudah diolah, seperti Comma Separated Values (CSV) dan JavaScript Object Notation (Json).

Dalam situs ini terdapat fitur yang dapat memudahkan pengguna mengonversi dataset ke dalam bentuk infografis, serta laporan yang bisa dijadikan rujukan untuk mengolah data menjadi produk jurnalistik. Selain itu, pengguna juga dapat dengan mudah mengakses situs ini karena memiliki dua bahasa pengantar, yakni Indonesia dan Inggris. Dengan begitu, menurut Deputi Program PPMN, Fransisca Ria Susanti, pekerja media bisa memanfaatkan data terbuka, sehingga memberi nilai tambah pada produk jurnalistik.

http://

“Dalam era gangguan informasi. Informasi bisa cepat, tapi tidak semua benar adanya. Oleh sebab itu, jurnalisme yang berdasarkan analisa mendalam sangat penting. Portal Datatalk.asia ini dapat membantu jurnalis untuk membuat produk yang bermutu,” ungkap Santi.

Pentingnya penggunaan data terkait pemilu juga disampaikan Direktur PCIJ, Carmela Fonbuena. Terlebih Filipina akan menggelar pemilihan presiden pada 2022 mendatang. Oleh sebab itu, menurutnya, masyarakat di tiga negara sama-sama dapat melakukan pemantauan, serta mendorong transparansi penyelenggaraan pemilu. “Data adalah senjata untuk melawan kebohongan yang beredar,” Direktur PCIJ, Carmela Fonbuena.

Koordinator Sinar Project Malaysia, Khairil Yusof sependapat dengan Carmela. Menurutnya, kerjasama antaranegara lewat Datatalk.asia sangat penting. Sebab selama ini, tidak semua orang tahu mengenai latar belakang dari kontestan politik. Di Malaysia misalnya, paling tidak hanya 40 persen dari kandidat yang diketahui publik. Hal ini diakibatkan oleh proses pemilu di Malaysia yang hanya berlangsung singkat, yakni 2 minggu. Itu sebab, pemantauan terhadap pemilu perlu melibatkan pelbagai pihak.

“Pada saat kita menggelar pemilihan di Asia Tenggara, jangan percaya pada politikus. Ketika ada politikus yang mengatakan sesuatu, Anda harus memeriksanya,” kata Khairil.

Meski begitu, data terkait pemilu di Asia Tenggara tidak mudah diakses. Filipina adalah sedikit negara yang tidak mempunyai payung hukum pemanfaatan data publik. Sementara Indonesia terbilang beruntung karena memiliki Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP). Namun, menurut Direktur Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem) Khairunnisa Nur Agustiyati, dasar hukum yang tidak rinci dan lemah kerap menyulitkan publik untuk mengakses data. “Penyelenggara berpikir mereka pemilik data, bukan penyedia data. Jadi tidak memberikan data itu kepada publik,” ujar Khairunnisa.

Selain itu, komitmen untuk membuka data pemilu juga seringkali dipengaruhi oleh keputusan dari masing-masing komisioner lembaga pemilu. Kata dia, komitmen yang diberikan komisioner pada periode tertentu bisa saja berbanding terbalik dengan keputusan komisioner yang baru. “Ketika komisionernya berganti, kerap kali yang diutamakan oleh komisioner baru berbeda. Jadi kita harus memulai dari awal,” jelas Khairunnisa. Kondisi ini, menurutnya,  bertambah sulit ketika partai politik maupun kontestan tidak ingin latar belakangnya diketahui publik.

Pendiri Data-N Malaysia, Kuek Ser Kuang Keng menyarankan agar Datatalk.asia tidak hanya menyajikan data terkait pemilu. Situs Datatalk.asia dapat dikembangkan menjadi wadah yang dapat dimanfaatkan sekaligus dikembangkan secara kolaboratif, tidak hanya oleh jurnalis.

“Saya berharap Datatalk.asia bisa melampaui dari penyajian data. Yang bisa lebih bermanfaat adalah analisis tentang bagaimana orang-orang melaporkan sebuah isu. Dan apa saja yang bisa kita pelajari untuk memperbaiki sistem peliputan. Wartawan tidak hanya bekerja di kalangan mereka sendiri, tapi juga dengan akademisi,” ujar Keng.

Dengan begitu, Datatalk.asia perlu menyediakan fitur maupun panduan yang dapat memudahkan berbagai kalangan untuk mengolah data. “Kita harus menyediakan langkah-langkah yang mudah diikuti untuk memanfaatkan data. Wartawan bisa belajar menganalisa data,” tambah Keng

Share:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *