Citradaya Nita 2019 Profil Penerima Fellowship

PPMN, melalui program Citradaya Nita yang telah berjalan selama 5 tahun, telah  memberikan kesempatan kepada sekitar 30-an jurnalis perempuan untuk meningkatkan kapasitasnya sebagai jurnalis dalam rangka mendorong perubahan bagi komunitasnya. Citradaya Nita yang mendorong pemberdayaan perempuan dalam hal layanan publik, ekonomi, dan lain-lain telah mengambil berbagai tema, termasuk peran jurnalis perempuan dalam mengurangi kemiskinan di sekitar wilayah kerja mereka. Pada tahun 2019, Citradaya Nita mengusung tema mendorong kepemimpinan jurnalis perempuan dengan memberikan Beasiswa Kepemimpinan untuk Jurnalis Perempuan.

Program Citradaya Nita dimulai dengan proses seleksi dengan mempertimbangkan sejumlah kategori penilaian, seperti program pengembangan yang diusulkan dan pengalaman jurnalistik selama minimal 5 tahun dan menduduki jabatan karir level menengah serta komitmen untuk memberdayakan perempuan.

Dari proses seleksi ini terpilih 10 penerima beasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Para peserta telah mengikuti pelatihan yang digelar pada 10 hingga 12 Desember 2019 di Jakarta. Selain mendapatkan materi tentang gender dan kepemimpinan, dalam pelatihan tersebut, para peserta juga mematangkan program yang akan dikerjakan.

Pengerjaan program pada tahun 2019-2020 terjadi di tengah masa penyebaran pandemic Covid-19. Kemampuan fellow untuk menyesuaikan sejumlah aktivitas dengan kondisi pandemi, termasuk merancang ulang dan memastikan protokol kesehatan menjadi salah satu kunci dari keberlangsungan program.

Setelah menyelesaikan keseluruhan program, para fellow mengikuti serangkaian pelatihan daring pada bulan Juni 2020 yang memungkinkan mereka untuk berdiskusi dengan para narasumber tentang gender dan kepemimpinan. Para fellow dapat berdiskusi mengenai kendala, tantangan, dan pencapaian karir dan kepemimpinan sebagai jurnalis perempuan dengan para narasumber.

Berikut profil para fellow:

  1. Betty Herlina

    Betty adalah jurnalis dari Rakyat Bengkulu Online dia juga alumni Citradaya Nita 2018. Melalui Citradaya Nita 2019 ini, Betty ingin memperluas pengetahuan dan pemahaman untuk jurnalis tentang pentingnya kesetaraan gender secara umum dan di dunia kerja. Dengan jejaring yang luas, Betty menggerakkan peliputan tentang isu perempuan yang dikerjakan oleh para jurnalis perempuan di Bengkulu. Sejumlah kegiatan yang dilakukan Betty di antaranya adalah pelatihan tentang keadilan gender, peliputan bersama, pembuatan Facebook group dan situs Jaringan Jurnalis Perempuan, dan talkshow.Pilihan untuk memperkuat konsolidasi jurnalis perempuan di daerah adalah langkah yang tepat mengingat dari komunitas yang awalnya hanya melibatkan lima jurnalis perempuan ini diharapkan dapat diperluas ke jurnalis perempuan lain di wilayah Bengkulu. Tidak hanya menyasar jurnalis, komunitas ini juga dapat menjalankan peran perluasan keterhubungan (engagement) dengan calon jurnalis perempuan dari kelompok mahasiswa.Penting sekali untuk memberikan pondasi pemahaman tentang hak-hak perempuan dan kesetaraan gender terhadap jurnalis perempuan karena mereka dapat memegang peran penting dalam penyebarluasan informasi dan pembentukan kesadaran publik. Sayangnya tidak banyak redaksi yang peduli akan pentingnya pelatihan tentang isu ini. Selain itu dominasi laki-laki di redaksi juga membuat penulis perempuan akan kesulitan untuk mengeksplorasi topik-topik tentang pentingnya kesadaran gender.
  2. Bhekti Suryani
    Bhekti berkarya sebagai editor untuk Harian Jogja dan mengangkat tentang liputan kolaborasi tentang dampak pembangunan infrastruktur terhadap kekerasan dan ketidakadilan gender pada perempuan. Melalui liputan kolaborasi yang melibatkan sejumlah jurnalis perempuan, Bhekti berharap media dapat mendorong pemerintah untuk memperhatikan dan mencari solusi atas kerentanan perempuan sebagai korban pembangunan infrastruktur. Persoalan yang selama ini kerap tidak dianggap penting oleh negara. Padahal ke depan, proyek infrastruktur semakin masif, dan potensi penggusuran semakin besar. Selain itu, peliputan bersama juga dapat meningkatkan perspektif dan keahlian jurnalis dalam meliput kasus-kasus ketidakadilan gender dan kekerasan terhadap perempuan korban pembanguan infrastruktur.Selama program Citradaya Nita 2019, Bhekti menggelar sejumlah kegiatan, termasuk workshop pemberitaan berbasis gender terhadap perempuan terdampak pembangunan infrastruktur kasus pembangunan Yogyakarta International Airport (YIA) dan Diskusi online hasil temuan lapangan peliputan berbasis gender pada proyek pembangunan Yogyakarta International Airport (YIA).

    Bhekti menunjukkan kemampuan mengorganisir yang baik bahkan di tengah kondisi yang tidak menentu karena penyebaran wabah. Investigasi yang dilakukan oleh satu tim di satu redaksi di tengah kondisi yang normal atau sebelum pandemi umumnya menemui tantangan yang tidak kecil. Bayangkan jika investigasi dilakukan oleh lebih dari satu newsroom di tengah pandemi. Apresiasi yang tinggi harus diberikan bagi Bhekti untuk kemampuan pengorganisasian sehingga mampu menjadi penggerak dari kerja sama atau kolaborasi jurnalis ini.

  3. Ika Yuniati

    Ika adalah reporter di media Solopos, Solo. Ika terpilih sebagai fellow dengan mengusung program pelatihan tentang kesetaraan gender dan pendidikan seksual di Posyandu Remaja Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri sebagai upaya menekan angka kekerasan seksual dan angka kehamilan pranikah remaja. Pelatihan dapat memberi kegiatan positif bagi remaja kecamatan setempat sehingga mereka lebih produktif dan kritis. Harapan besarnya adalah semangat ini dapat menular ke kecamatan lain sehingga tindak kekerasan seksual pada perempuan di Wonogiri semakin menurun.Ika menggelar sejumlah kegiatan, di antaranya diskusi soal Kesetaraan gender, pelatihan menulis dan media sosial untuk mendukung kampanye anti kekerasan seksual, dan talkshow di TA Radio. Ika juga mampu memperluas kolaborasi dengan mengikutsertakan Komunitas seni rupa Ruang Atas Solo dalam memfasilitasi pengerjaan mural di tembok depan sekolah sebagai bentuk mengekspresikan hasil diskusi. Cara kreatif ini disukai oleh para remaja.

    Dari umpan balik yang disampaikan oleh pihak sekolah terlihat bahwa program yang diusung Ika ini mampu memberikan sumbangsih bagi upaya menekan angka kekerasan seksual di kalangan remaja. Pihak sekolah juga menyebutkan mereka belajar banyak hal, termasuk kreativitas untuk mengelola media sosial dan penggunaan mural sebagai materi kampanye.

  4. Irma Hafni

    Irma adalah jurnalis dari acehtrend.com, Banda Aceh. Dalam program Citradaya Nita 2019 ini, Irma mengerjakan sejumlah kegiatan yang bertujuan meningkatkan partisipasi santri dalam praktik literasi dan jurnalisme warga. Irma menggandeng para santri di Dayah (Pondok Pesantren) Terpadu Inshafuddin Banda Aceh.Program yang berhasil dijalankan oleh Irma di antaranya adalah seminar kepenulisan dengan tema “Aku Menulis Aku Berdaya”, sejumlah pertemuan dalam rangkaian program pendampingan mingguan kelas jurnalistik, dan kunjungan ke media harian Serambi Indonesia dan acehtrend.Irma mampu menghadirkan program yang beragam dan menarik agar kegiatan ini tetap diminati oleh para santri yang masih remaja. Dalam salah satu sesi mentoring misalnya, Irma membawa para peserta ke Taman Rusa. Dia juga mampu mengatur ritme mentoring sehingga materi tentang gender dapat tetap tersampaikan setelah peserta mentoring selesai membahas mengenai teknik dasar penulisan. Irma juga mengambil dari contoh yang sesuai dengan target kegiatan, yaitu mengapa perempuan perlu menulis.

    Hal lain yang juga perlu mendapat apresiasi dari program Irma adalah dia mampu menghadirkan secara langsung sejumlah profesional yang dapat menjadi inspirasi bagi para peserta. Tidak hanya mengundang pembicara dalam sesi kelas, Irma juga memboyong para peserta untuk bertemu langsung dan mengunjungi kantor media. Aktivitas ini dapat membekas di ingatan para peserta dan mampu memotivasi para peserta untuk terus belajar, bersekolah, dan menulis serta mulai menerapkan kesetaraan gender. Kegiatan Irma mendapat sambutan yang sangat baik dan menjadi awal bagi pengembangan literasi di pesantren pada masa mendatang.

  5. Kartini Nainggolan

    Kartini bekerja sebagai jurnalis di harian Mercusuar, Palu. Program Citradaya Nita 2019 ini dimanfaatkan oleh Kartini untuk mendorong peningkatan kapasitas jurnalis warga dalam monitoring hak-hak perempuan dan anak selepas bencana.  Sejumlah kegiatan yang dikerjakan Kartini adalah perekrutan jurnalis warga, workshop jurnalisme warga, pelatihan jurnalis warga, pembuatan majalah dinding, dan publikasi media.Pemilihan penyintas untuk menjadi jurnalis warga sangat penting mengingat Palu masih dalam masa pemulihan setelah diterpa bencana gempa dan tsunami 2018. Program ini sangat kuat baik dari sisi manfaat pemberdayaan perempuan maupun dari perluasan keahlian jurnalistik. Selain menulis untuk majalah dinding, penyintas juga dapat menulis untuk terapi.Dari sisi perencanaan program dan pengelolaan kegiatan, Kartini menunjukkan bahwa dia mampu melibatkan dan berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk NGO untuk menjaring keterlibatan para penyintas. Kemitraan ini dapat menjadi awal yang baik bagi kolaborasi bersama dari beragam organisasi untuk meningkatkan pemberdayaan perempuan. Pola kerja kemitraan seperti ini harus terus menerus dikembangkan mengingat jurnalis juga kadang memiliki keterbatasan untuk menjangkau kelompok target

    Selain itu, di tengah pandemi, program yang dikerjakan Kartini menjadi memiliki manfaat yang lebih mengingat warga di hunian sementara kesulitan mengakses informasi tentang Covid-19. Keberadaan informasi yang diupayakan oleh Kartini dan jurnalis warga mengisi kesenjangan tersebut.

  6. Khairiah Lubis

    Khairiah adalah jurnalis DAAI TV Medan sekaligus penggiat Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI). Khairiah terpilih sebagai fellow Citradaya Nita 2019 dengan program yang bertujuan mendorong kompetensi dan empati jurnalis perempuan dan jurnaliskesehatan dalam pemberitaan kasus ibu rumah tangga dan  anak terpapar HIV/AIDS.Sejumlah program yang dijalankan oleh fellow di antaranya adalah workshop jurnalistik perempuan HIV/AIDS dalam pemberitaan, liputan bersama jurnalis perempuan tentang permasalahan HIV/AIS pada perempuan dan ibu rumah tangga, publikasi di web FJPI, dan pembuatan e-book.Perhatian fellow untuk mengangkat topik mengenai orang dengan HIV/AIDS perlu mendapatkan dukungan mengingat angka HIV/AIDS di Sumatera masih terbilang tinggi jika disandingkan dengan jumlah penyebaran HIV/AIDS di provinsi lain di Indonesia. Permasalahan HIV/AIDS pada perempuan masih kerap menempatkan perempuan sebagai pihak yang disalahkan dan dikenai stigma. Padahal, perempuan sering menjadi korban akibat perilaku seksual pasangan mereka. Perempuan yang terinfeksi HIV/AIDS dari para suami pun perlu memiliki suara untuk menyampaikan pesan mereka.

    Selain kemampuan untuk memilih isu yang penting, fellow juga mempunyai kemampuan mengorganisir yang baik. Inisiatif fellow untuk melakukan liputan kolaborasi dapat memperkuat jejaring jurnalis perempuan yang telah terbentuk di Medan.

  7. Luh De Suriyani

    Luh De merupakan penggiat di komunitas jurnalisme warga Bale Bengong. Melalui program Citradaya Nita 2019, Luh De ingin menegakkan fungsi jurnalisme yaitu memberikan suara bagi yang tidak memiliki suara atau giving voice to the voiceless. Luh De mengorganisir sejumlah aktivitas untuk memberikan suara bagi perempuan dengan gangguan jiwa untuk keadilan akses layanan dan pemberdayaan, seperti kelas jurnalisme warga, membuat konten kreatif multiplatform sesuai dengan pilihan dan kenyamanan masing-masing, pendampingan ke rumah-rumah, dan pameran karya dari rumah para peserta.Luh De memiliki kepekaan yang tinggi dan berani mengeksplorasi topik penting, seperti orang dengan gangguan jiwa yang dialami perempuan yang jarang sekali diekspose oleh media. Pengalaman Luh De selama ini dengan Bale Bengong dan jurnalisme warga mengasahnya untuk peka melihat topik peliputan yang menggugah kemanusiaan.Keberanian Luh De ini juga diperkuat dengan kemampuannya mengorganisir dan menindaklanjuti rencana. Keterlibatan para pendamping, dalam hal ini keluarga para perempuan dengan gangguan jiwa, juga membantu Luh De untuk mengeksekusi rencana kegiatan. Selain itu jejaring yang luas yang menghubungkannya dengan para pakar juga sangat membantu keberhasilan program.

    Kreativitas juga terlihat dari kemampuan Luh De untuk menyesuaikan format acara di tengah pandemi. Acara pameran misalnya diubah konsepnya menjadi pameran dari rumah para peserta. Ke depannya diharapkan upaya Luh De untuk memberikan suara bagi kelompok perempuan minoritas dapat terus berlanjut.

  8. Maria Andjelin Idju Lalu

    Maria Andjelin atau yang biasa disapa Merlyn sehari-hari bekerja di Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Ngada. Untuk program Citradaya Nita 2019, Merlyn mengangkat permasalahan yang terjadi di komunitas para ibu migran di wilayah Paroki Langa yang menaungi enam desa di Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada.Sejumlah kegiatan yang dikerjakan di antaranya adalah pembentukan komunitas ibu migran dan diskusi media lokal, workshop gender dan penguatan kapasitas ibu migran dengan pendampingan psikologi, pelatihan jurnalistik sederhana tentang kiat menulis konten di media sosial, dan pengerjaan feature tentang ibu migran.

    Merlyn adalah fellow yang memegang komitmen di tengah keterbatasan. Beraktivitas di lokasi yang memiliki keterbatasan layanan telekomunikasi menjadi tantangan bagi fellow dalam melakukan koordinasi. Kendati demikian, Merlyn tetap memiliki komitmen yang tinggi dan mampu menyelesaikan program.

    Aktivitas yang dijalankan Merlyn adalah awal dari perjalanan perubahan yang diharapkan dapat terjadi secara berkesinambungan untuk perubahan nasib para ibu migran. Hal lain yang juga menjadi catatan adalah Merlyn mampu menjawab tantangan yang ada di lapangan. Salah satunya adalah perluasan program ke anak para ibu migran yang berstatus pelajar. Keterlibatan pelajar dapat menjadi jembatan bagi pengenalan kesadaran gender. Ke depannya, diharapkan program pemberdayaan perempuan dapat terus berlanjut di wilayah Indonesia Timur.

  9. Robi’ah Machtumah Malayati
    Robi’ah adalah penggiat Radio Suara Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Sebelumnya, Robi’ah juga terpilih sebagai fellow dalam Citradaya Nita 2017. Dalam Citradaya Nita kali ini, Robi’ah membidik peningkatan partisipasi generasi milenial dalam memproduksi konten yang berpihak pada perempuan. Seluruh kegiatan yang diusulkan berhasil dijalankan oleh Robi’ah, termasuk workshop menjadi creative content creator media sosial berbasis kesetaraan gender, pendampingan memproduksi konten YouTube dan konten meme, mengunggah konten kreatif dan kompetisi view & like terbanyak, talkshow bertema kesetaraan gender dan generasi millennial, serta talkshow radio bertema kesetaraan gender dan generasi milenial.Yang menarik dari program Robiah adalah kemampuannya untuk mengggabungkan pelatihan bagi santri dengan penggunaan teknologi terbaru yang modern dan terbuka, seperti meme dan konten YouTube. Program yang dikelola Robiah dapat menjadi rujukan bagaimana generasi muda Islam memanfaatkan media sosial untuk membangun kesadaran gender.

    Senada dengan fellow lain, Robiah juga terpaksa mengubah konsep aktivitas, seperti talkshow menjadi daring karena pandemi. Secara garis besar, tidak ada halangan yang signifikan bagi Robiah berkat persiapan yang matang dan jiwa kepempimpinan yang dimiliki.

  10. Wati Susilawati

    Wati adalah jurnalis harian Berita Khatulistiwa (BERKAT)/berkatnewstv.com di Pontianak, Kalimantan Barat. Selain itu Wati juga merupakan penggiat di Komunitas Jurnalis Perempuan Khatulistiwa. Melalui program Citradaya Nita 2019, Wati ikut serta dalam upaya meningkatkan kapasitas jurnalis, penulis perempuan, lembaga pers kampus dan influencer lokal dalam pemberitaan isu pemberdayaan perempuan.Wati berhasil menggelar sejumlah kegiatan, seperti focus group discussion, workshop dengan tema Perempuan dan Peran Media, workshop tentang Perempuan di Panggung Politik, workshop tentang Stop Kekerasan terhadap Perempuan’, dan workshop mengenai Cara Aman Bermedia Sosial.Wati memiliki bekal jejaring yang luas tidak hanya jejaring dengan sesama pekerja media, tetapi juga melibatkan pihak-pihak lain untuk terlibat dalam kerja bersama membangun kesetaraan gender. Ke depannya jejaring ini akan terus menjadi bekal Wati untuk terus menghidupkan kegiatan jurnalis perempuan di Pontianak.

    Selain itu, pada masa pandemi, fellow juga mengeksplorasi pengorganisasian pelatihan melalui daring yang bermanfaat bagi Wati dalam menggerakkan komunitas yang terus berjuang bagi pemberdayaan perempuan dan keadilan gender di Pontianak.

Share: