Citradaya Nita 2018

Profil Penerima Fellowship

Program Citradaya Nita 2018 mengambil tema Pemberdayaan Perempuan dalam Penanggulangan Kemiskinan. Tema ini dipilih mengingat Indonesia masih menjadi negara yang memiliki beragam pekerjaan rumah untuk mengurangi kemiskinan. Program ini bertujuan mendorong peningkatan kapasitas jurnalis untuk menghasilkan karya jurnalistik yang mengupas lebih dalam dan menyodorkan solusi untuk memangkas angka kemiskinan. Selain itu, para fellow juga merancang program pemberdayaan dan bergerak bersama komunitas perempuan.

Program ini diikuti oleh 10 orang peserta yang terpilih setelah melalui tahapan seleksi proposal. Sejak awal program, para fellow telah menunjukkan antusiasme yang tinggi. Sebelum mengirimkan proposal, para fellow menentukan komunitas dampingan yang disertakan dalam project.  Untuk memutuskan komunitas dampingan, para fellow berinteraksi dan bertemu langsung dengan para penggerak komunitas, riset, dan menjalin kontak serta mendapatkan rekomendasi dari jejaring. Selain itu, ada pula fellow yang menjadi bagian dari komunitas. Fellow sudah terlibat dalam pengorganisasian komunitas, termasuk di antaranya menjadi koordinator tenaga pendamping lapangan di kelompok dampingan

Pelaksanaan program Citradaya Nita 2018 membuktikan bahwa jurnalis perempuan mampu berbuat lebih untuk ikut memperbaiki kondisi di sekitarnya. Selain memberikan pelatihan yang terkait dengan jurnalisme, para fellow juga mampu menggelar workshop dengan mendatangkan pembicara dan pengajar dari berbagai latar belakang, seperti pemerintahan, akademisi, pelaku usaha, hingga praktisi pemasaran digital. Inisiatif penyelenggaraan pelatihan ini memberikan tambahan pengetahuan dan peluang kerja sama bagi komunitas dampingan.

Sebelum memulai program, seperti Citradaya Nita tahun-tahun sebelumnya, para fellow juga mengikuti workshop pendahuluan. Sejumlah sesi, termasuk presentasi mengenai jurnalisme dan apa sumbangsih jurnalis untuk terlibat aktif menyelesaikan kemiskinan di Indonesia serta paparan mengenai wirausaha sosial. Dari materi ini, para fellow mendapatkan banyak sekali masukan tentang cara memulai program dan menjaga kesinambungan program.

Berikut profil para fellow:

  1. Anggy Febiarthy

    Anggy berkarya di Radio Swara Kesehatan Bunut, Sukabumi. Radio ini merupakan bagian dari program Promosi Kesehatan Rumah Sakit – Rumah Sakit Umum Daerah R. Syamsudin. Dalam program Citradaya Nita 2018, Anggy mendampingi Komunitas komposting Cikole untuk memperbaiki pengelolaan sampah di lingkungan sekitar.

    Dalam program ini, Anggy mampu memanfaatkan sumber daya yang tersedia di Bunut FM dengan sangat baik. Dia mampu mengorganisir dan merealisasikan seluruh program, termasuk iklan layanan masyarakat dan talkshow. Selain itu, Anggy juga mampu menjaring narasumber dari pihak-pihak terkait. Hal ini terjadi berkat kesamaan komitmen dari berbagai pihak untuk mengurai masalah sampah rumah tangga yang juga menjadi perhatian dari dinas dan komunitas lain. Anggy juga melibatkan Dinas Koperasi & UMKM serta Dinas Pertanian dan mampu meyakinkan pemerintah daerah untuk terus membina dan membantu pengadaan bibit. Selain itu, Dinas UMKM juga memberikan respons positif terkait perizinan produk pupuk. Komitmen lain datang dari Dinas Koperasi dan UMKM yang rutin mengisi talkshow di Bunut FM bahkan setelah program Citradaya Nita 2018 berakhir.

  2. Betty Herlina

    Betty adalah jurnalis di Harian Rakyat Bengkulu. Dalam program Citradaya Nita 2018, Betty mendampingi Kelompok Perempuan Peduli Lingkungan (KPPL) Maju Bersama yang memanfaatkan kecombrang dari area Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) sebagai usaha alternatif penyokong ekonomi keluarga.

    Betty menjalin komunikasi dan menggali permasalahan di komunitas dampingan sehingga mampu mengemas program yang tepat untuk memberikan solusi. Betty menjalankan program yang dibutuhkan mulai dari pelatihan produksi dan pengemasan hingga pemasaran. Tidak hanya itu saja, Betty juga mendatangkan narasumber dari perbankan yang berbagi tentang cara mendapatkan pinjaman dan pengelolaan keuangan bagi pelaku usaha mikro.

    Keterlibatan sejumlah narasumber dari berbagai organisasi, seperti Aliansi Jurnalis Independen Kota Bengkulu, Jurusan Teknologi Pertanian Universitas Bengkulu Dinas Koperasi dan UMKM Rejang Lebong, Lembaga Otoritas Jasa Keuangan Bengkulu Bank Bengkulu menunjukkan komitmen yang tinggi dari fellow untuk meningkatkan pengetahuan bagi anggota komunitas dampingan.

    Berkat pendampingan dan beragam program ini, komunitas mampu menghasilkan produk sirup yang lebih berkualitas dan memasarkan melalui media sosial. Cara pemasaran ini sebelumnya tidak pernah dilakukan oleh komunitas. Betty juga membuka jalan dan jejaring bagi komunitas dengan banyak pihak yang bersedia untuk ikut memberdayakan kelompok perempuan ini.

  3. Fitria Marlina

    Fitria adalah jurnalis dari media Klikpositif.com di Padang, Sumatra Barat yang mengajukan untuk mendampingi kelompok usaha pisang sale di Solok, Sumatra Barat. Kendati terpisah jarak, bukan berarti fellow tidak maksimal dalam menjalankan program. Terbukti, Fitria mampu mengorganisir sejumlah kegiatan yang dapat mendorong kemajuan komunitas para perempuan pebisnis kecil ini.

    Berdiri sejak 2011, komunitas ini masih memerlukan pendampingan dan sejumlah pelatihan untuk terus memperbaiki kualitas produk dan pemasaran.

    Fitria mampu menjembatani komunitas ini dengan Dinas Perindagkop Kabupaten Solok. Para ibu pun dapat memasarkan produk bersamaan dengan perhelatan Tour de Singkarak. Selain itu, Fitria pun menghadirkan perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten Solok dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Solok untuk ikut bersama-sama mendalami kendala yang dihadapi komunitas dan mencari jalan keluar berupa program lanjutan.

    Pendampingan Fitria mendapat respons yang positif. Program pelatihan yang diorganisir mampu menjaga kesinambungan kelompok usaha pisang sale. Selain itu, para anggota komunitas pun menjadi terpacu untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan pendapatan bagi keluarga.

  4. Friska Kalia

    Friska bekerja untuk KBR dan mendampingi inisiatif Kelompok Srikandi Bondowoso. Kelompok ini hadir di tengah dominasi para petani kopi laki-laki. Kematangan berorganisasi yang dimiliki Friska tercermin dalam pelaksanaan program Citradaya Nita 2018. Sejak workshop pendahuluan, Friska memperlihatkan bahwa dia memahami betul permasalahan yang ada di komunitas kopi dan jalan keluar melalui program yang akan diambil. Pembentukan Komunitas Srikandi Kopi Bondowoso ini sangat penting bagi gerakan pemberdayaan perempuan karena baru pertama kali ada upaya untuk mengorganisir komunitas sejak perkebunan kopi Bondowoso beroperasi.

    Selain itu, Friska mampu memanfaatkan jejaring untuk meningkatkan keahlian para petani kopi. Alhasil, narasumber yang dihadirkan sepanjang program sangat beragam, mulai dari pemerintah hingga kelompok yang peduli terhadap kemajuan komunitas petani kopi. Friska juga berhasil menjaring keikutsertaan Universitas Jember yang memberikan bantuan berupa mesin pengolahan kulit kopi.

    Untuk pemasaran, Friska juga mengajak influencer untuk membantu promosi produk. Peran influencer akan sangat membantu perluasan informasi mengenai keberadaan kopi dari Bondowoso. Selama ini, penikmat kopi, yang jumlahnya kian bertambah, telah terbiasa dengan pasokan kopi dari sejumlah daerah, termasuk Flores dan Toraja. Kehadiran kopi Bondowoso dapat menjadi alternatif bagi pecinta kopi di Tanah Air. Ke depannya bukan tidak mungkin, kopi Bondowoso juga dapat meramaikan pasar ekspor.

  5. Hiswita Pangau

    Hiswita adalah jurnalis warga Tifa (JW Tifa) Kota Jayapura, Papua. Dalam program Citradaya Nita 2018, Hiswita mendampingi Komunitas Warna. Kemampuan untuk merancang program yang beragam dan menarik menjadi kekuatan lain dari fellow. Tidak hanya fokus untuk membekali komunitas dengan keahlian yang dapat digunakan oleh mereka untuk menghasilkan produk kerajinan, Hiswita juga dapat mengikutsertakan isu lain yang juga tak kalah penting, seperti kampanye HIV/AIDS ke dalam program. Selain itu, sebagian uang yang terkumpul dari hasil penjualan produk digunakan untuk donasi pemberian nutrisi bagi orang yang hidup dengan HIV/AIDS.

    Koordinasi dengan komunitas yang baik juga membantu Hiswita untuk bersama-sama dengan komunitas mencari solusi dari kendala di lapangan. Salah satu contohnya adalah ketika komunitas berniat memasarkan produk secara online. Sayangnya para anggota komunitas tidak selalu memiliki pulsa untuk mengakses data. Jalan keluar yang diambil adalah sebagian dari dana penjualan produk disisihkan untuk membeli pulsa dan paket data. Ini untuk memastikan bahwa komunitas dapat menggunakan Internet kapan saja untuk mengembangkan pemasaran produk.

    Kerja keras Hiswita menuai hasil lain yang terwujud dalam bentuk penandatanganan dukungan dan kerja sama antara Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Jayapura, Dinas (Perindagkop) Kota Jayapura, LSM Yayasan Harapan Ibu Papua dan Komunitas Warna. Sebanyak 10 anggota Komunitas Warna mengikuti pelatihan kewirausahaan yang diadakan oleh Disperindagkop Kota Jayapura. Selain itu, Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Jayapura juga mengundang 20 anggota Komunitas Warna sebagai peserta pelatihan manajemen usaha. Rangkaian kegiatan yang dijalankan Hiswita mampu memberikan bekal bagi para anggota komunitas untuk terus menjalankan program-program lanjutan pada masa mendatang.

  6. Ika Ningtyas

    Ika adalah jurnalis lepas dengan pengalaman jurnalistik yang panjang. Dalam program Citradaya Nita 2018, Ika melakukan pendampingan untuk Organisasi Petani Perempuan Wongsorejo Banyuwangi (OP2WB). Melalui program ini, Ika dapat menulis lebih dalam bagaimana dampak perubahan iklim terhadap perekonomian petani perempuan di pedesaan dan membantu keluarga perempuan petani untuk meningkatkan perekonomian mereka sesuai sumber daya alam di desanya. Selain itu, Ika dengan sejumlah aktivitas yang dijalankan mampu menarik perhatian media arus utama lokal untuk mengangkat isu kemiskinan petani kecil.

    Isu perubahan iklim yang dipilih Ika sangat penting karena selama ini, perempuan kerap terpinggirkan dalam pembahasan mengenai mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Kemampuan pengorganisasian yang kuat membuat Ika mampu menggerakkan para ibu untuk membentuk komunitas penghasil sambal. Semula, para ibu tidak menjual hasil panen. Berkat pendampingan Ika, para ibu mulai membuat sambal yang diberi merek Bebiniq dan memasarkannya. Bebiniq diambil dari bahasa Madura yang artinya perempuan.

    Ika juga menambah pelatihan produksi cabai yang melibatkan Dinas Kesehatan. Dari acara ini, muncul ide untuk menambah varian produk, yaitu sambal kering. Peluang pasar terbuka lebar karena belum ada produsen sambal kering di Banyuwangi.

    Penjualan produk sebagai salah satu pilar program yang berkelanjutan juga menjadi salah satu yang dipersiapkan Ika. Itu sebabnya pengurusan perizinan masuk ke dalam program tambahan. Dengan mengantongi perizinan, komunitas dampingan akan lebih leluasa memasarkan sambal dan meningkatkan produksi.

    Ika membuktikan bahwa jurnalis juga mampu merancang solusi yang dibutuhkan bagi komunitas dampingan melalui serangkaian pelatihan dan menopang keberlanjutan komunitas.

  7. Marina Nasution

    Marina adalah jurnalis DAAI TV yang mendampingi para perempuan penjual jamu yang tergabung dalam Yayasan Perempuan Perkotaan Medan. Berkat riset dan interaksi yang dilakukan sebelum program berjalan, Marina mengetahui akar permasalahan yang dihadapi komunitas perempuan penjual jamu di Medan. Hasilnya, Marina mampu mengemas kegiatan untuk kelompok perempuan penjual jamu dengan konsep yang kreatif. Selama ini kerap dipandang sebagai produk tradisional dan hanya dikonsumsi oleh pembeli berusia tua. Di tangan fellow, produk jamu terlihat lebih modern dan dipasarkan melalui media sosial. Dia juga mampu mengajak para ibu yang selama ini tidak pernah melirik Internet untuk mempelajari keahlian dasar pemasaran digital.

    Salah satu contoh konsep kreatif yang dihasilkan Marina adalah mengaitkan konsumsi jamu dengan gaya hidup kembali ke alam. Untuk lebih memperkuat pesan ini, Marina juga mengundang penggiat gerakan kembali ke alam, dokter dari Ikatan Dokter Indonesia, dan Kepala Dinas Kesehatan.

    Antusiasme peserta komunitas menunjukkan apresiasi terhadap kerja-kerja fellow selama program, termasuk menjaring pihak lain yang dapat diajak berkolaborasi dan menjaga kesinambungan upaya perluasan pemasaran dan pemberdayaan para perempuan penjual jamu. Pengalaman para penjual jamu yang panjang, banyak di antara mereka yang sudah berjualan selama puluhan tahun, juga menjadi kekuatan untuk menghasilkan produk yang inovatif dan diterima pasar.

  8. Sry Lestari Samosir

    Sry adalah penggiat Komunikasi Sosial Keuskupan Keuskupan Agung Medan. Sry mendampingi Komunitas Mentari yang digerakkan oleh para perempuan pesisir di Kelurahan Bagan Deli Belawan. Sebelumnya, para perempuan ini belum terbiasa mengorganisir diri dalam kelompok. Dalam program Citradaya Nita inilah, Sry membantu para perempuan ini untuk membentuk komunitas dan pilihan nama jatuh pada Komunitas Mentari. Pendampingan ini mendorong perempuan pesisir memiliki keterampilan berwirausaha berbasis olahan laut agar meningkatkan taraf hidup masyarakat pesisir Belawan. Kendati telah lama bermukim di wilayah ini, para perempuan ini tidak pernah berhimpun dalam satu komunitas. Adanya komunitas akan memudahkan mereka untuk bersama-sama meningkatkan keahlian dan mengembangkan pemasaran untuk memperbaiki kesejahteraan. Selain berwirausaha, Sry juga melakukan pelatihan jurnalisme warga. Tujuannya agar melatih perempuan pesisir menyebarluaskan informasi yang ada di sekitar.

    Sry mampu membuktikan bahwa jarak dan akses yang terlampau sulit serta kondisi air laut yang pasang tidak menyurutkan niatnya untuk menjalankan program sesuai dengan rencana awal. Pada pertemuan pertama misalnya, air laut yang naik menggenangi ruang workshop. Namun, banjir ini tidak membuat Sry dan komunitas dampingan menghentikan workshop. Justru sebaliknya, mereka tetap bersemangat meneruskan pelatihan mengenai wirausaha dan pengolahan hasil laut.

    Selain memompa semangat anggota komunitas untuk mencoba hal baru dengan cara mengolah aneka penganan, para ibu juga mempelajari pemasaran melalui media online. Sry mampu menghadirkan narasumber yang memberikan pelatihan bagi para ibu untuk memanfaatkan ponsel dan media sosial untuk memasarkan produk. Selama program, Sry juga menjalin kolaborasi dengan beragam pihak, termasuk Unit Pelaksana Teknik Layanan Karir dan Kewirausahaan Universitas Al-Azhar Medan dan Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan Medan.

  9. Ummul Maesarah

    Sarah, begitu fellow ini biasa disapa, adalah jurnalis Lombok TV. Untuk program Citradaya Nita 2018, Sarah mendampingi komunitas buruh perempuan pemetik kangkong di Desa Bug Bug, Lombok Barat. Sarah memilih komunitas para buruh pemetik kangkung yang dapat dibilang marjinal. Isu buruh selama ini menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan di Indonesia. Peningkatan keahlian dan perluasan pemasaran yang ditawarkan oleh Sarah dapat menjadi solusi untuk memperbaiki kesejahteraan para buruh. Para buruh juga bersemangat mengikuti pelatihan. Ini menunjukkan kemampuan Sarah dalam mengorganisir kelompok dan menunjukkan kualitas kepemimpinannya. Selain workshop, Sarah juga berhasil menggelar talkshow di Lombok TV dengan menghadirkan Kepala Seksi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Lombok Barat dan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI). Talkshow yang disiarkan secara luas membantu mengabarkan kepada publik mengenai kondisi yang dialami oleh buruh pemetik kangkung. Selain itu, keterlibatan dua narasumber yang berasal dari dua unsur, yaitu pemerintah selaku perumus kebijakan dan pebisnis mampu memberikan solusi yang menyeluruh.

    Pada saat pelaksanaan Citradaya Nita 2018, wilayah Lombok terkena gempa. Bencana alam ini melumpuhkan Lombok karena banyak infrastruktur dan hunian yang rusak. Para penduduk meninggalkan rumah dan tinggal di tempat pengungsian untuk sementara waktu, termasuk Sarah. Kondisi ini membuat Sarah mengubah pelaksanaan sejumlah program. Setelah situasi lebih aman, Sarah kembali melanjutkan program pelatihan. Semangat Sarah untuk terus melanjutkan program adalah bentuk komitmen yang tinggi. Di tengah situasi pemulihan bencana, Sarah dapat menggelar sejumlah program yang sudah disusunnya di proposal.

  10. Via Irmar

    Via adalah jurnalis SBO TV yang mendampingi perempuan di wilayah terpencil Dusun Kepetingan, Sidoarjo. Via memiliki kepercayaan akan potensi wisata pantai dan kehidupan masyarakat lokal di Dusun Kepetingan, Sidoarjo, Jawa Timur yang terpencil dengan akses yang sulit. Dengan strategi yang tepat, dusun ini diyakini mampu diubah menjadi desa wisata. Selain itu, hasil laut dari sekitar dusun juga dapat dipasarkan dan memberikan pemasukan tambahan bagi warga. Kemauan untuk memilih desa yang terpencil layak mendapatkan apresiasi karena umumnya wilayah ini belum mendapatkan perhatian yang baik dari pemerintah dan pihak lain. Ini juga menunjukkan Via menjalankan fungsi jurnalis yang menggerakkan perubahan, termasuk di wilayah dengan kondisi ekonomi yang tertinggal.

    Dari keseluruhan program pelatihan, Via mengajak rekan-rekan media untuk membagikan keahlian kepada para perempuan di Dusun Kepetingan. Peliputan yang dihasilkan dapat membantu menyebarluaskan potensi wisata yang ada di sekitar. Selain itu, peliputan juga menjadi bahan bagi pemerintah lokal untuk memperbaiki akses menuju Dusun dan mendorong kemajuan bagi masyarakat di daerah tersebut.

Share: