Profil Penerima Fellowship

Tahun 2017

Program PPMN pada tahun 2017 ini bertema Menjaga Keberagaman, Toleransi, dan Budaya Lokal. Tema ini dipilih mengingat Indonesia masih memiliki sejumlah pekerjaan rumah terkait pemenuhan hak-hak dasar bagi kelompok minoritas akibat tekanan dari kelompok mayoritas.

Padahal, sejak awal perjuangan kemerdekaan, Indonesia disusun oleh keberagaman suku dan budaya. Ribuan suku yang menjadikan negara kepulauan sebagai rumah ini justru menjadi kekuatan dan kekayaan bagi Indonesia. Selain itu, toleransi, saling menghargai, dan saling membantu sesama seperti tercermin dalam budaya gotong royong juga sejatinya telah menjadi bagian dari keseharian.

Kendati demikian, permasalahan dan gesekan yang memicu konflik agama dan suku akibat rendahnya toleransi tetap bermunculan di sejumlah wilayah. Tak jarang konflik terjadi dalam waktu yang berkepanjangan dan menelan kerugian yang tidak sedikit, mulai dari korban jiwa, terpisahnya anggota keluarga, putusnya tali persahabatan, dan munculnya kebencian terhadap kelompok yang berbeda.

PPMN memahami bahwa media dan jurnalis memiliki peran yang sangat penting dalam merawat dan menjaga keberagaman, toleransi, dan budaya lokal. Tema ini dipilih untuk program fellowship Citradaya Nita 2017 dengan harapan para penerima fellow akan memperkuat toleransi dan turut mengadvokasi pemenuhan hak bagi kelompok minoritas.

Berikut profil para fellow:

  1. Gini Gusnayanti

Gini adalah penggiat Radio Komunitas Melati di Plered, Purwakarta, Jawa Barat. Gini mengusung tema Perkuat Budaya Indung, Perkuat Pendidikan Bagi Perempuan. Tema ini berangkat dari budaya indung di Purwakarta yang sudah menjadi bagian dari masyarakat. Contoh budaya indung di masyarakat adalah sikap saling menghargai dan menghormati serta meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Semangat dari budaya ini misalnya tercermin dalam program perelek yaitu iuran beras dari semua warga yang mampu untuk selanjutnya dibagi kepada warga yang tidak mampu.

Selama menjadi fellow Citradaya Nita 2017, Gini memproduksi sejumlah program seperti iklan layanan masyarakat, feature, talkshow, dan sandiwara radio. Selain itu, Gini juga menggelar pelatihan jurnalis warga dan mendorong dialog antarwarga. Dari pertemuan warga yang difasilitasi Gini, warga sepakat untuk mendorong sejumlah inisiatif, seperti pembentukan kelompok remaja putri yang peduli terhadap toleransi. Selain itu, komunitas juga menggagas penyelenggaraan pentas budaya. Selama menjalankan program, Gini berhasil melibatkan beragam lapisan masyarakat, mulai dari tokoh remaja, agama, para ibu, dan pemerintah daerah.

Gini berhasil mendulang respons positif termasuk dari iklan layanan masyarakat yang mempromosikan toleransi dan pentingnya pelestarian budaya lokal. Salah satu aktivitas yang juga menarik perhatian adalah pengerjaan sandiwara radio dengan tema Berbeda, Siapa Takut? sebanyak tiga episode.

  1. Oktaviana Sisiwany

Serangkaian kegiatan yang dijalankan Oktaviana dalam program Citradaya Nita 2017 di Radio Komunitas Gema Solidaritas Ketapang, Kalimantan Barat ini bermanfaat dalam memperluas kampanye damai dan pemberdayaan perempuan. Selain itu, program ini juga meningkatkan wawasan masyarakat yang belum banyak mengenal beragam budaya di Ketapang dan mendorong interaksi warga untuk lebih mengetahui kekayaan budaya di wilayah ini.

Sejumlah program yang dikerjakan di antaranya adalah iklan layanan masyarakat, mini drama, feature, dan juga talkshow yang menghadirkan beragam narasumber, termasuk para pelestari budaya lokal, seperti pelestari syair Gulung Melayu dan alat music Sape’. Salah satu acara diskusi mengambil tema Pemuda, Keberagaman, dan Peran Mereka dalam Mengisi Kemerdekaan. Oktaviana juga menggelar pelatihan penyiaran bagi mahasiswa dan pelajar. Tidak hanya itu, tim radio komunitas Gema Solidaritas juga berpartisipasi dalam karnaval budaya.

Serangkaian kegiatan ini mendorong terjadinya interaksi antara pendengar dan penyiar tentang dukungan merawat keberagaman. Pendengar juga diingatkan kembali pada begitu banyak budaya baik yang sangat jamak ditemui pada era 1990-an seperti mengantar makanan ke pemeluk agama yang berbeda saat hari raya. Selama program, Oktaviana berhasil melibatkan Persatuan Pemuda Dayak, pemerintah daerah, dan sejumlah komunitas pelestari budaya lainnya.

Berkat kegiatan ini, sejumlah sukarelawan muda tertarik untuk bergabung dan mengampu acara dengan terus mengampanyekan pesan untuk merawat keberagaman. Program siaran ini dapat mendorong masyarakat untuk menjadi lebih terbuka dan berinteraksi serta mengenal budaya lain. Dampak positif lain dari kegiatan Citradaya Nita adalah para pekerja seni semakin bersemangat karena mereka memiliki sarana untuk mempromosikan dan mengenalkan karya mereka.

  1. Robi’ah Machtumah Malayati

Robi’ah adalah penyiar dan reporter Radio Suara Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Dalam rangkaian Citradaya Nita 2017 ini, Robi’ah mengerjakan proyek atau program kegiatan tentang seni Sholawat Al Banjari sebagai seni budaya yang menyuarakan perdamaian, toleransi dan seni budaya lokal. Robi’ah mengangkat seni-budaya ini karena Al Banjari merupakan seni budaya yang tumbuh subur di masyarakat Jombang, khususnya yang ada di pesantren dan madrasah-madrasah. Tidak hanya itu, seni budaya ini menjadi semacam wadah untuk menyebarkan cinta perdamaian di tengah maraknya wacana dan gerakan ekstrimisme dan radikalisme yang mengarah pada perpecahan. Secara tidak langsung seni-budaya Al Banjari menjadi semacam ajakan akan pentingnya mengedepankan toleransi pada setiap perbedaan yang ada.

Sejumlah kegiatan yang digagas oleh Robi’ah selama program Citradaya Nita 2017 di antaranya adalah program pelatihan jurnalis radio sebagai bagian dari jurnalis warga, iklan layanan masyarakat (ILM), produksi mini drama radio dan feature, serta talkshow tentang budaya lokal yang mendekatkan pesan perdamaian dan menjauhkan dari radikalisme, serta pelatihan menulis.

Program Citradaya Nita telah memberi kesempatan untuk mengasah kemampuan menulis peserta baik santri dan mahasiswa. Selain itu para kru radio juga mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kualitas produksi dan siaran di Radio Suara Tebuireng, melalui produksi ILM dan feature yang terkait dengan tema-tema tentang keberagaman dan budaya lokal.

Pelatihan jurnalis radio yang diikuti oleh para santri juga mendorong keaktifan kembali radio komunitas yang lama tidak mengudara. Para santri terdorong untuk mempersiapkan siaran. Para peserta juga ikut melaporkan informasi via radio sehingga ikut memperkaya konten siaran.

  1. Rusmiyati

Rusmiyati, penggiat Radio Swaradesa di Kulonprogo, Yogyakarta, mengerjakan program tentang pelestarian budaya dengan tema Nguri-Nguri Budaya Murih Nyawiji. Rusmiyati mengadakan sejumlah kegiatan, seperti mini drama, talkshow dengan beragam tema, seperti kesenian rakyat di tengah globalisasi, dan iklan layanan masyarakat.

Selain itu, fellow juga melakukan pendampingan di Sanggar Siwi Kinanthi yang berada di Brosot Galur, Kulon Progo, Yogyakarta. Sanggar ini merupakan pusat latihan bersama bagi anak-anak dan remaja dalam bidang seni tari baik seni tari tradisi/ klasik maupun seni tari modern, ketoprak, geguritan, mendongeng dan seni budaya Jawa yang lainnya. Anak-anak yang belajar menari di sanggar sangat antusias saat diperkenalkan dengan tari Angguk yang merupakan seni tari unggulan dari Kabupaten Kulon Progo. Tujuan dari pengenalan jenis tari ini adalah untuk menghilangkan stigma bahwa tarian ini tabu untuk dipentaskan bagi perempuan. Dengan mempelajari seni tari Angguk, anak-anak perempuan ini memupuk rasa percaya diri dan kecintaan terhadap budaya lokal.

  1. Yayuk Wahyuni

Yayuk Wahyuni adalah penggiat di Radio Komunitas Primadona FM, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Pada program Citradaya Nita 2017, Yayuk mengerjakan proyek dengan tema Kain Tenun Sebagai Alat Pemersatu dalam Masyarakat. Pemilihan tema ini didasari oleh kekayaan budaya lokal dalam bentuk tenun yang harus dijaga dan dilestarikan. Selain sebagai warisan budaya lokal, kain tenun juga memiliki potensi ekonomi yang tinggi yang dapat meningkatkan perekonomian komunitas. Selain itu, kain ini juga dapat dijadikan sebagai alat pemersatu dalam masyarakat. Tenun ini diproduksi oleh masyarakat adat yang tersebar di desa Karang Bajo, Bayan, dan Loloan.

Sejumlah aktivitas yang digagas Yayu selama program adalah program pelatihan dan pendampingan komunitas, pembuatan iklan layanan masyarakat, mini drama, feature, dan pendampingan serta pelatihan untuk jurnalisme warga.

Selain aktivitas yang terkait dengan pengembangan konten dan jurnalisme, fellow juga menggelar pelatihan dan pendampingan komunitas untuk lebih mengenal kain tenun adat Bayan.

Dalam pelatihan ini, para peserta diajak untuk lebih mengenal sejarah dan filosofi kain tenun adat Bayan dan jenis-jenis kain. Pembentukan kelompok kerja dan dialog dengan pemerintah lokal untuk memperluas pemasaran kain juga menjadi bagian dari kegiatan fellow yang menuai respons positif.

  1. Yeti Chotimah

Yeti merupakan bagian dari Radio Komunitas Bung Tomo di Banyuwangi, Jawa Timur. Radio Komunitas Bung Tomo ini merupakan anggota dari Jaringan Komunitas Radio Blambangan (JRKBB) dan Jaringan Radio Komunitas Indonesia (JRKI). Selama menjadi fellow Citradaya Nita 2017, Yeti mengerjakan program dengan tema Peningkatan Kualitas Jurnalis Perempuan untuk mendorong kapasitas para penggiat radio.

Sejumlah program yang digagas oleh Yeti di antaranya adalah iklan layanan masyarakat, mini drama radio, talkshow, dan pelatihan serta pendampingan untuk pengembangan jurnalisme warga.

Yeti mengambil pendekatan yang menarik saat melakukan pelatihan bagi komunitas jurnalis warga. Selain menggelar pelatihan di kelas, fellow juga merancang perjalanan dan membawa para peserta mengunjungi 11 tempat bersejarah. Sejumlah narasumber dihadirkan dalam kunjunga tersebut untuk memberikan penjelasan mengenai sejarah tempat-tempat tersebut. Para peserta pun mempelajari dan mendokumentasikan kunjungan tersebut menjadi karya jurnalistik.

Cara ini rupanya sangat efektif karena partisipasi peserta untuk menghasilkan karya terus meningkat. Para peserta menjadi lebih percaya diri dan menguasai teknik penulisan serta giat berkarya. Kemampuan literasi para peserta pun meningkat. Selain itu, pendampingan ini juga membantu para penyiar radio komunitas dalam mempersiapkan materi siaran. Para penyiar membaca dan mengambil informasi dari beragam media atau buku sebelum siaran. Hasilnya, materi siaran menjadi lebih kaya informasi dan menambah pengetahuan bagi para pendengar.

Share: