Image default
Opini

Apakah kontes Miss Scuba Sudah Ramah Gender?

Penyelenggaraan pameran pada bulan ke 4 (empat) setiap tahunnya merupakan acara yang ditunggu-tunggu oleh para pecinta kedalaman. DEEP & EXTREME EXHIBITION Tahun 2020 akan dilaksanakan bersamaan dengan ajang pemilihan Miss Scuba (Putri Selam Indonesia). Miss Scuba Indonesia (Putri Selam Indonesia), merupakan afiliasi dari MISS SCUBA INTERNATIONAL PAGEANT, sebuah ajang kontes kecantikan berskala international yang didedikasikan untuk olahraga menyelam. Pemenang akan diberi gelar International Diving Ambassador yang akan berperan penting dalam mempromosikan olah raga selam dan konservasi kelautan di seluruh dunia.

Setelah menelusuri akun instagram @missscubaindo banyak kegiatan positif yang telah dilaksanakan sesuai dengan tujuan kegiatan ini diselengarakan. Misi utama pemilihan diving ambassador (Putri selam Indonesia) adalah untuk menumbuhkan kecintaan masyarakat Indonesia terhadap laut, melestarikan dan mengembangkan inovasi tradisi dan budaya kelautan, serta mengkampanyekan pentingnya perhatian dan kesadaran besar terhadap upaya konservasi laut, pemanfaatan sumber daya laut yang berkelanjutan, serta turut serta dalam pelestarian lingkungan global.

Apakah Persyaratan Pemilihan Miss Scuba Sudah Sadar Gender?

Persyaratan yang di tetapkan dalam pemilihan Miss Scuba hampir sama dengan pemilihan ajang keputrian lainnya. Ada poin penting yang perlu diperhatikan seperti apakah ajang ini sudah sadar gender atau malah menjadi bias gender. Terdapat miss representation dengan mengeksploitasi tubuh perempuan dan penggambaran visual di media sosial tidak sesuai dengan tujuan awal Miss Scuba ini dilakukakan.

Dari persyaratan di atas dapat dilihat kalau para peserta yang ingin mengikuti kontes ini diberikan kebebasan untuk memilih apakah bersedia di photo menggunakan switsuit (pakaian renang) atau tidak. Menurut ku ini adalah salah satu langkah yang telah di ambil oleh pengelenggara kegiatan miss scuba untuk menghindari adanya miss representation, mencoba meminimalisir bias gender. Panitia penyelenggaraan pemilihan Miss Scuba Indonesia melibatkan kontestan untuk memutuskan dan mengambil sikap bagaimana mereka akan di publikasikan.

Ajang pencarian bakat biasanya dapat terselenggara dengan adanya beberapa support dari para pelaku bisnis, salah satunya adalah pakaian selam atau pakaian renang. Oleh sebab itu para kontentas dituntut untuk mempromosikan produk sponsor melalui berbagai media. Tidak ada paksaan dari pihak penyelenggara dalam pengambilan photo, semua sudah atas persetujuan kontestan.

Apakah Komunikasi Di Sosial Media Dalam Penyelenggaraan Miss Scuba Sudah Ramah Gender?
Media sosial merupakan sarana yang efisien dalam mengkomunikasikan dan memasarkan suatu produk. Pemilihan Miss Scuba menggunakan Instragram untuk mengkampanyekan kegiatannya dan mengenalkan calon Diving Ambasador. Pesatnya perkembangan media, khususnya media sosial memiliki peran penting dalam menjalankan strategi bisnis karena dapat meningkatkan brand awareness. Media sosial sudah menjadi gaya hidup masyartakat, menjadi tempat berbagi dalam berinteraksi maupun berkomunikasi dengan keluarga, teman ataupun fans, serta sarana untuk aktualisasi diri dan menciptakan personal branding.

Media sosial menjadi wadah yang efektif untuk melakukan kegiatan promosi atau mengiklankan sebuah produk secara online dan dapat berkomunikasi langsung dengan konsumennya. Media sosial memiliki kekuatan sosial yang sangat besar yang sangat mempengaruhi opini publik yang berkembang di masyarakat. Penggalangan dukungan masa dapat dengan mudah di lakukan hanya dengan menggerakan jari melalui media sosial ketimbang menyebarkannya orang ke orang.

Oleh sebab itu pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh para calon Diving Ambasador dalam mengaktualisasikan diri menciptakan personal banding untuk mempromosikan produk tertentu, atau mengkampenyakan misi sebagai Diving Ambasador perlu kesadaran dari peserta cara apa yang mereka pilih (calon peserta harus sadar gender apakah ada perampasan hak sebagai perempuan). Apakah terdapat ketidakadilan gender disana? Apakah terdapat eksploitasi seksual, penyimpangan yang disebabkan adanya ketidakseimbangan kekuasan, dalam hal ini ada paksaan oleh penyelenggara untuk mengekspoitasi tubuh mereka? Dari feed instagram Miss Scuba dapat dilihat beberapa foto ini.

Seperti yang telah disampaikan dalam pernyataan persyaratan pendaftaran calon perserta diberikan hak untuk memilih bersedia menggunakan pakaian renang atau tidak.

Apakah Perbedaan Fisik Menjadi Kendala Penyelam Perempuan?

Salah satu isu yang semakin gencar diperbincangkan akhir-akhir ini adalah isu kesetaraan antara laki-laki dan perempuan atau dengan istilah lain isu kesetaraan gender. Pemaknaan terhadap istilah kesetaraan gender ini khususnya mengenai masalah ketimpangan antara keadaan dan kedudukan perempuan dan laki-laki di masyarakat. Mengapa isu itu muncul dan menjadi suatu perdebatan yang panjang?
Hal tersebut dikarenakan perempuan masih memiliki kesempatan terbatas dibandingkan dengan laki-laki untuk berperan aktif dalam berbagai program dan aktivitas lainnya di masyarakat, seperti kegiatan ekonomi, sosial-budaya, pendidikan, organisasi dalam kelembagaan, dsb. Keterbatasan ini berasal dari berbagai nilai dan norma masyarakat yang membatasi ruang gerak perempuan dibandingkan gerak laki-laki.

Menjadikan Miss Scuba menjadi brand Ambasador merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk melibatkan perempuan untuk berperan aktif menjaga konservasi laut, pemanfaatan sumber daya laut dan pelestarian lingkungan global. Perbedaan fisik tidak menjadi kendala untuk ikut mengambil peran dalam kegiatan ini. Selama calon Miss Scuba mampu dan memiliki keahlian yang memadai dan mampu mengemban amanat untuk menjalankan misi program acara tersebut. Penyelengara juga membekali para calon dengan memberikan pelatihan teknik menyelam kepada calon Miss Scuba.

Bagaimana Peran Pemerintah Terhadap Isu Konservasi Lingkungan Laut dan Kesetaraan Gender.

Di website Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam rubrik berita dengan Judul “Usung Tema Kesetaraan Gender Dalam CT-DAY, KKP Dukung Dan Apresiasi Peran Perempuan Di Sektor Kelautan”. Pada berita tersebut memaparkan beberapa kegiatan yang telah dilakukan oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan untuk mendukung konservasi laut. Kegiatan tersebut adalah:

  1. Peringatan Hari Laut Sedunia atau World Ocean Day 2019 yang jatuh pada 8 Juni, yaitu World and The Ocean.
  2. Peringatan Hari Segitiga Karang atau Coral Triangle Day (CT-Day) 2019 yang jatuh pada 9 Juni, yaitu Corals of Change: Paving Way for Gender Equality in Coral Triangle (Kesetaraan Gender di Kawasan Segitiga Karang).

Peringatan Hari Segitiga Karang mengangkat tema Kesetaraan Gender di Kawasan Segitiga Karang dengan tujuan mempromosikan peran penting dan kontribusi Kesetaraan Gender untuk menangani isu/risiko konservasi lingkungan di kawasan tersebut. Permasalahan lingkungan yang ada di kawasan tersebut adalah polusi sampah plastik dan perubahan iklim. Serta untuk mendorong partisipasi yang adil dalam pengambilan keputusan terkait konservasi, perlindungan, dan pengelolaan sumber daya pesisir dan laut yang berkelanjutan untuk tercapainya kesejahteraan masyarakat pesisir yang merata.

Di Indonesia, perempuan sudah menjadi bagian penting dalam pemberdayaan masyarakat pesisir dan pelaku perikanan. Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Brahmantya Satyamurti Poerwadi menyatakan, hal ini telah diatur dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 28 Tahun 2016 tentang Pedoman Pelaksanaan Pemantauan dan Evaluasi Program/Kegiatan Responsif Gender Kementerian Kelautan dan Perikanan.

“Dalam Permen tersebut diatur bahwa pengarusutamaan gender merupakan bagian dari strategi pembangunan yang dilakukan untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender. Dengan demikian, setiap pengintegrasian permasalahan, aspirasi, kebutuhan, dan permasalahan perempuan dan laki-laki harus dimasukkan ke dalam perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi dari seluruh kebijakan, program, proyek, dan kegiatan di berbagai bidang kehidupan dan pembangunan,” papar Brahmantya
Peran aktif perempuan dalam berbagai program dan kegiatan kelautan dan perikanan terbukti mendatangkan berbagai manfaat. Salah satunya mencegah degradasi ekosistem pesisir dan penambangan pasir dan sampah. Banda Aware adalah salah satu contoh success story yang diinisiasi oleh dua orang perempuan untuk berperan aktif dalam kegiatan CT-Day.

Dibuat Oleh: Putri Reno (Juara 1 Kompetisi Blog Konten Ramah Gender yang diselenggarakan oleh PPMN)

Artikel Terkait

Mempertahankan Jurnalisme 

admin

Tides, Selalu Ada Harapan

admin

Tinggalkan Komentar

X