fbpx
Image default
Jurnalis Perempuan Kegiatan PPMN

Budaya Patriarki Hambat Posisi Perempuan di Media

Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) menggelar diskusi terbatas di Jakarta, pada Jumat, 6 Maret 2020 yang dihadiri oleh para pimpinan redaksi media perempuan dengan tema Mendukung Kepemimpinan Perempuan di Media.

Diskusi yang dihadiri oleh 14 perempuan pemimpin media ini merupakan bagian dari serangkaian kegiatan Media for Women M4W di Indonesia. Aktivitas ini merupakan bagian dari kegiatan global kampanye kesetaraan gender di media pada Hari Perempuan Internasional 8 Maret 2020 yang diinisiasi oleh Free Press Unlimited (FPU), organisasi pengembangan media yang berbasis di Belanda.

Diskusi berupaya menggali data dari permasalahan mengapa jurnalis perempuan sulit mencapai posisi karir tertinggi dalam organisasi media. Selain itu, diskusi juga menjaring ide dan solusi yang dapat memperbaiki lingkungan kerja di redaksi agar semakin ramah gender dan mendorong peran perempuan di media.

Topik tentang kepemimpinan perempuan di media menjadi penting untuk terus menerus menjadi perhatian mengingat saat ini media masih menjadi sasaran kritik karena bias gender dan tidak mempromosikan keadilan gender. Hal ini di antaranya tercermin dari pemberitaan yang menggunakan rasa bahasa hingga sudut pandang berita terhadap perempuan yang tidak adil, menguatkan sterotip  perempuan sebagai pihak yang lemah, dan eksploitasi terhadap tubuh perempuan. Media juga belum memberikan ruang yang cukup bagi perempuan untuk bersuara dan berkontribusi pada masalah-masalah publik.

Peran dan posisi perempuan di media juga masih tertinggal dari jurnalis laki-laki. Riset Aliansi Jurnalis Independen (AJI) tahun 2012 menyebutkan di antara 10 jurnalis paling banyak hanya akan ada 3 jurnalis perempuan. Adapun, riset Tempo Institute pada tahun 2018 menyebutkan hanya ada 11% narasumber perempuan yang muncul pada pemberitaan media massa. Di level global, Unesco pada tahun 2018 merilis bahwa hanya 10% pemberitaan media mengangkat masalah perempuan dan hanya ada 20% narasumber yang diwawancara adalah perempuan.

Dalam sambutan pembuka diskusi, Eni Mulia, Direktur Eksekutif  PPMN, mengatakan diskusi yang mempertemukan belasan perempuan pemimpin media adalah kesempatan yang sangat baik untuk mendalami permasalahan yang menghambat perempuan berkarir di media.

“Selain itu, kami berharap pertemuan ini dapat menghasilkan solusi dan rekomendasi yang akan meningkatkan jumlah pemimpin perempuan di lebih banyak redaksi di Indonesia. Para pemimpin yang terlibat dalam diskusi ini juga tentu akan mengambil peran untuk membuka kesempatan bagi jurnalis perempuan untuk menduduki jenjang karir tertinggi di redaksi dan memperkuat peran media untuk menghasilkan pemberitaan yang ramah gender dan mempromosikan keadilan gender,” ujar Eni.

Diskusi terbatas ini terbagi ke dalam dua sesi. Sesi pertama adalah penggalian masalah dan sesi kedua fokus membahas mengenai rekomendasi dan solusi. Pada sesi pertama, para peserta aktif menyampaikan permasalahan apa saja yang menghambat karir para perempuan di media, seperti jam kerja yang panjang, beban kerja dan tekanan di dalam pekerjaan terutama di tengah kompetisi media yang semakin ketat di tengah era disrupsi di industri media, kantor yang tidak ramah anak, beban ganda, subordinasi karena kolega laki-laki dipandang lebih baik dan lebih mampu memimpin, hingga ke stereotip yang membuat perempuan dilabeli galak jika tegas dan cengeng atau mudah tersinggung serta terharu jika kurang tegas.

Para perempuan yang menjadi pimpinan media massa berpose sesaat setelah mengikuti diskusi terbatas bersama PPMN.

Selain itu, berkurangnya minat para generasi milenial dan Z untuk memilih profesi jurnalis dan berkarir di industri media juga menjadi topik yang disinggung dalam pembahasan. Dunia jurnalisme mulai ditinggalkan karena pekerja berusia muda lebih memilih untuk berkarya di sektor lain, seperti menjalankan bisnis atau bergabung dengan perusahaan rintisan. Faktor ini akan menghambat rekrutmen jurnalis perempuan.

Evi Mariani Sofian, Redaktur Pelaksana media berbahasa Inggris the Jakarta Post, menegaskan bahwa akar dari permasalahan untuk pertanyaan mengapa jurnalis perempuan sulit mencapai posisi karir tertinggi dalam organisasi media adalah budaya patriarki yang mengakar kuat di dalam masyarakat Indonesia, yang juga terjadi di redaksi.

“Dominasi laki-laki di ruang redaksi sudah berlangsung sangat lama. Patriarki ini yang kemudian menghasilkan ketidakadilan gender, termasuk beban ganda. Ini nyata terlihat misalnya saat jurnalis perempuan punya anak. Dia lalu dihadapkan pada kerepotan membagi waktu antara rumah dan keluarga. Tantangan ini tidak selalu dialami oleh jurnalis laki-laki yang menjadi bapak,” ujarnya.

Adapun dalam sesi kedua, para peserta membahas solusi yang dipandang mampu mendorong jumlah perempuan di media dan mendukung posisi perempuan di level pengambil keputusan. Sejumlah usulan yang dibahas di sesi ini di antaranya adalah mendorong partisipasi perempuan dengan memperkenalkan profesi jurnalis dan industri media ke kampus, mendorong upaya untuk mengikis budaya patriarki dan mempromosikan kesetaraan gender, dan mengurangi beban ganda dengan berbagi pekerjaan domestik, termasuk pengasuhan anak dengan pasangan.

Faktor lain yang juga penting adalah menumbuhkan lingkungan pekerjaan yang ramah gender, termasuk menerapkan pola dan jam kerja yang lebih fleksibel, menyediakan fasilitas untuk ibu menyusui dan penitipan anak.

Sejumlah peserta diskusi juga membagi kiat mereka untuk mendorong peningkatan karir bagi jurnalis perempuan dengan cara melakukan pendelegasian pekerjaan dan memberikan kesempatan serta tanggung jawab guna mempersiapkan keahlian dan kemampuan para jurnalis perempuan ini untuk menduduki posisi-posisi penting di redaksi.

Hasil diskusi para pemimpin perempuan di media ini akan disampaikan dalam diskusi publik yang digelar oleh Tempo Institute pada Selasa  17 Maret 2020. ***

Narahubung: Marietta +62 8568596969

Artikel Terkait

Pendaftaran ExcEl Award 2019 Diperpanjang

admin

Menjaga Kemerdekaan Pers dengan Bisnis yang Sehat

admin

Inilah Para Pemenang ExcEl Award 2019

admin

Tinggalkan Komentar

X