Kegiatan PPMN

Peran Jurnalis Perempuan Minim dalam Keredaksian Media

Jakarta – Program Citradaya Nita 2019 yang dihelat Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara disambut baik oleh para jurnalis perempuan. Maria Andjelin, Reporter Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Barat menilainya sebagai kesempatan untuk meningkatkan kapasitas perempuan dalam ruang redaksi.

“Citradaya Nita menjadi pintu awal untuk mengangkat isu perempuan,” ungkap Maria di sela-sela  pelatihan Citradaya Nita di hotel A One, Jakarta Pusat, Rabu 12 Desember 2019.

Isu perempuan seperti buruh migran, kekerasan seksual, hingga kekerasan rumah tangga memang belum jadi primadona pemberitaan media. Hal tersebut berkebalikan dengan catatan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) di bawah Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak (P2TP2A) yang mencatat ada 300 kasus kekerasan yang menimpa perempuan sepanjang tahun 2018.

Sementara itu, Komisi Nasional Perempuan (Komnas Perempuan) dalam catatan akhir tahun  (CATAHU) 2019, menyatakan kasus kekerasan terhadap perempuan di NTT terjadi sebanyak 150 kali. 

Menurut Maria, isu perempuan yang masih terpinggirkan dari pemberitaan membuat pemerintah serta masyarakat tidak tahu harus bersikap seperti apa terhadap kekerasan yang menimpa perempuan.

“Isu migran belum disorot dan belum menjadi prioritas media karena banyak (media-red) hanya mengangkat kebijakan pemerintah serta pembangunan semata. Bahkan isu perempuan dianggap isu tidak perlu diperhatikan,” imbuhnya.

Sebab itu, Maria ingin perempuan lebih berdaya. Ia berharap publikasi atas persoalan buruh migran dapat mengubah sikap publik serta pemerintah. Hal tersebut bakal mendorong terciptanya kebijakan yang ramah perempuan.

“Dengan demikian perempuan migran dapat diperhatikan,” ungkap Maria.

Sementara itu, reporter Solo Pos, Ika Yuniati menuturkan jumlah pekerja lelaki yang jauh melampaui pekerja perempuan membuat berita soal perempuan sulit naik cetak.

“Di Solo Pos, ketika mau ambil keputusan (perempuan-red) itu kalah,” ujar Ika.

Selain itu, ia juga pernah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan ketika menempati pos seni dan pagelaran. Ika dianggap tidak mampu menggarap kedua isu tersebut lantaran dia perempuan.

“Satu sisi budaya patriarki masih kuat, menganggap perempuan lemah dalam bekerja sebagai jurnalis,” keluh Ika.

 

***

Direktur eksekutif Jurnal Perempuan, Atnike Sigiro mengutarakan jurnalis perempuan di media massa lebih banyak diminta untuk menulis isu kesehatan, penampilan, dan isu-isu santai seperti liburan. Sementara itu, laki-laki lebih dipercaya meliput isu politik, olahraga, isu internasional dan teknologi.

“Melihat hal itu semestinya perlu ada peningkatkan partisipasi perempuan di media. Misalnya melibatkan lebih banyak  pada bagian penulisan berita, pembawa berita, manajemen media, pemilihan narasumber sampai pelibat perempuan dalam pengambilan topik berita,” ujar Atnike .

Selain Atnike, PPMN juga mengundang tiga perempuan dari ruang redaksi yakni Irna Gustiawati Pemimpin Redaksi Liputan6, Citra Dyah Prastuti Pemimpin Redaksi Kantor Berita Radio, dan Ratna Komala Direktur News MNC Group.

 

Citra Dyah Prastuti mengapresiasi 10 jurnalis perempuan mendapatkan beasiswa kepemimpinan jurnalis perempuan dalam program CItradaya Nita 2019. Mereka di antaranya, Betty Harlina jurnalis Rakyat Bengkulu Online, Bhekti Suryani Jurnalis Harian Jogja, Ika Yuniati jurnalis SoloPos, Irma Hafni jurnalis acehtrend.com, Kartini Nainggolan jurnalis Harian Mercusuar, Khairuah Lubis jurnalis DAAI TV, Luh De Suriyani jurnalis Balebengong.id, Maria Andjelin jurnalis Diskominfo Ngada NTT, Robiah Machtumah jurnalis Radio suara Tebuireng dan Wati Susilawati jurnalis Harian Berita Khatulistiwa.

“ Jurnalis perempuan harus bisa mengambil peran dengan mengutamakan kompetensi diri,” kata Citra. (Abdus Somad)

Artikel Terkait

Pimpinan Redaksi Perempuan: Patriarkisme, Manajemen Tidak Ramah Gender Menghambat Karir Perempuan di Media

admin

Peran Media dan Jurnalis dalam Melawan Intoleransi

admin

PENGUMUMAN TENDER DIPERPANJANG – Pembangunan Platform Data Pemilu

admin

Tinggalkan Komentar

X