fbpx
Image default
Jurnalisme Warga

Orang Rimba Berbagi Ruang Hidup

Pintak, pemuda Rimba yang paling semangat dalam belajar. Dia sudah memahami fase-fase sulit dalam beradaptasi seperti disiplin dalam menghidupkan Radio Benor 88.8 FM sesuai jadwal. Ia juga melakukan siaran di ruang studio, membersihkan halaman, mencuci piring, dan melakukan pekerjaan domestik lainnya.

Dia adalah satu-satunya pemuda Rimba yang digaji secara profesional oleh Radio Benor, yakni Rp 1 juta per bulan, dan setiap siaran mendapat Rp7 ribu per jam. “Kadang, honor siaran saya mencapai Rp800 ribu,” kata Pintak. Setiap gajian, Pintak selalu menyisihkan sebagian uangnya untuk ditabung di Simpedes Bank BRI. Sebagian uang diinvestasikan membeli bibit tanaman dan membeli perabot rumah.

Elvidayanti, penanggung jawab Radio Benor sering mengejek Pintak, “Cuma istri saja yang Pintak belum punya. Dia nggak mau dapat cewek Rimba. Padahal, lihat saja, di rumah Pintak, dari kompor gas sampai perkakas rumahtangga lengkap”.

Ya, Pintak merupakan sedikit dari pemuda Rimba yang mampu beradaptasi dengan dunia luar. Cuma dia dari Orang Rimba yang pernah tinggal tiga bulan di Norwegia, sebuah negara maju di daratan Eropa. Ia juga sudah sudah menjelajah kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Medan. Meski lancar baca-tulis, Pintak tetap memegang teguh prinsipnya tidak mau bersekolah di desa. Tapi, dia amat kritis dalam melihat kondisi lingkungannya tatkala menyangkut persoalan Orang Rimba dan hutannya.

Taman Nasional Bukit Duabelas bagi Pintak merupakan ruang hidup bagi semua orang, baik Orang Rimba dan orang-orang di desa. “Kalau hutan rusak, lingkungan juga rusak,” katanya. Acapkali dia menyuarakan persoalan lingkungan melalui siaran radio agar orang-orang di desa memahami adat, budaya, dan kepercayaan Orang Rimba. “Orang luar tidak tahu apa kepercayaan Orang Rimba,” ujar Pintak.

Dia ingin Orang Rimba dihargai seperti halnya masyarakat lainnya. Pintak sering memprotes persoalan lewat radio seperti ketika terjadi sunatan massal anak-anak Rimba, juga hutan yang semakin sempit karena ekspansi perkebunan sawit. Banyak Orang Rimba yang kehilangan tempat tinggal dan hak-hak hidupnya. Mereka sampai terpaksa memulung buah sawit yang jatuh dari pohon, di kebun-kebun sawit milik warga dan perusahaan.

“Tapi, di kelompok kami aman. Hutan terjaga karena masuk dalam kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas,” jelasnya. Pintak juga berani mengkritik Orang Rimba yang malas belajar dan tidak peduli dengan sumber penghidupannya.

Pintak memang contoh anak muda Rimba yang mandiri. Uangnya ditabung dan diinvestasikan di kebun karet. “Sudah 3-4 tahun saya mengurus kebun karet. Honor siaran saya gunakan untuk membeli bibit,” ujarnya. Sedangkan anak-anak Rimba lainnya menghabiskan uangnya untuk beli pulsa telepon atau beli ponsel.

Di saat waktunya luang, Pintak rutin mengunjungi orang tuanya di dalam hutan. Kadang dia sempatkan berburu rusa, babi, kijang, landak, burung, atau mencari ikan di sungai untuk dijual atau dijadikan lauk makan.

Dedikasi besar Pintak membuat Elvidayanti sangat mempercayakan kendali Radio Benaor FM pada Pintak. Sedangkan pemuda Rimba lainnya masih angin-anginan. Kadang semangat, kadang kendor. “Cuma Pintak yang bisa diajak teratur dan mau mengerjakan apa saja. Orangnya juga suka belajar, yang lain sulit diatur seenaknya sendiri,” ujar Elvi.

Meski memilih hidup di desa, Pintak tetap memegang teguh adat Orang Rimba. Tidak kehilangan identitas budaya dan tradisinya. Pintak dapat menjadi jembatan informasi bagi Orang Rimba dan orang desa di sekitarnya. Dia berharap hutan Orang Rimba tetap lestari agar masa depan anak-anak Rimba tidak suram. Sehingga, Orang Rimba dan warga desa dapat hidup berdampingan dan saling menghargai.

Artikel Terkait

Warga Petebang Keluhkan Lambannya Aliran Listrik bagi Masyarakat

admin

Keterbukaan di Desa Sikasur-Pemalang berkat Jurnalis Warga

admin

Jurnalisme Warga, Ujung Tombak Perubahan

admin

Tinggalkan Komentar

X