fbpx
Image default
Jurnalisme Warga

Eks Buruh Migran Penggerak Ekonomi Desa

Lailiyah mengaku nekat cari uang ke Arab Saudi untuk biaya operasi yang mahal bagi anaknya. Ia ingin buah hatinya sembuh dari kebutaan. Kini, ia malah menjadi penggerak ekonomi desa.

Banyuwangi merupakan wilayah ujung timur Pulau Jawa yang memiliki potensi sumber daya alam, kaya seni tradisi, ekowisata, dan komoditas pertanian, dari dataran rendah, pegunungan, hingga laut. Namun, himpitan masalah ekonomi memaksa para perempuan Banyuwangi usia produktif menjadi buruh migran di luar negeri. Padahal, mereka tidak memiliki bekal ketrampilan yang memadai.

Menurut catatan Pemkab Banyuwangi, wilayah kabupaten Banyuwangi mencapai 5.782 km2. Jumlah penduduknya 1,66 juta jiwa, dengan jumlah laki-laki dan perempuan yang berimbang. Penduduknya tersebar di 24 kecamatan. Sebanyak 70 persennya merupakan penduduk usia produktif atau usia kerja, yakni antara 15-64 tahun.

Di Dusun Krajan Wetan, Desa Temuguruh, Kecamatan Sempu, perempuan bernama Siti Lailiyah, 50 tahun, terlempar pada kenangan masa lalunya. Dia nekat meninggalkan desanya menuju Arab Saudi. Selama 12 tahun menjadi buruh migran, ia bekerja amat jauh dari keluarga demi membiayai pengobatan seorang anaknya yang menderita kebutaan.

“Pokoknya saya nekat, cari uang untuk biaya operasi yang mahal. Saya ingin anak saya sembuh dari kebutaan. Saya optimis, karena dokter bilang anak saya bisa sembuh. Nyatanya tidak bisa sembuh. Waktu itu, dokter menutupi agar saya kuat,” keluhnya.

Pada keberangkatan pertama, Lailiyah mendaftar resmi di perusahaan jasa pengiriman tenaga kerja. Setelah kedua dan ketiga kalinya, dia berani pergi sendiri ke Arab Saudi dan Abu Dhabi. “Saya sampai menangis, dinyatakan nggak lulus. Tapi, saya nekat,” ujar Lailiyah.

Ketika itu, semangatnya pergi ke Arab Saudi memang menggebu. Sampai dia berganti-ganti agen, dari PT Damas hingga PT Alferdi, yang berpusat di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Perjuangan Lailiyah tidak sia-sia. Akhirnya dia sampai ke Arab Saudi. “Awalnya, di sana, saya sulit memahami kalau majikan bicara bahasa Arab. Tiga bulan, baru sedikit-sedikit bisa menangkap maksudnya. Tapi kalau bicara masih sulit,” tuturnya. Saat itu, Lailiyah meninggalkan tiga anak kecil di bawah asuhan suaminya.

 

Menjadi penggerak ekonomi desa

Memasuki usia 50 tahun, Lailiyah tidak sanggup lagi menjadi pekerja rumah tangga di Arab Saudi. “Usia saya sudah tua sekarang,” ujarnya. Kini, Lailiyah memberdayakan perempuan di lingkungannya untuk mendirikan koperasi bernama Paguyuban Empu Rahayu. Paguyuban ini menyediakan pinjaman modal usaha dengan cicilan yang ringan. Anggota dapat meminjam uang Rp500 ribu hingga Rp1 juta.

Lailiyah menggerakkan para perempuan usia produktif di desanya agar mau membuka usaha mandiri. Anggota paguyuban mulai memproduksi rengginang, kerupuk terasi, opak singkong, opak sawi, sambal pecel, dan penganan lainnya. Selain itu, ada usaha seperti warung kopi lesehan, peternakan ayam dan bebek, membuat telur asin, hingga membuat masker herbal dari rempah-rempah.

Semua relatif berjalan baik di tangan Lailiyah. Ia dan anggota paguyuban bahkan jadi dipercaya menjadi pengurus koperasi Bumdes yang modalnya bersumber dari alokasi dana desa. Bumdes merupakan Koperasi Simpan Pinjam Badan Usaha Mandiri Milik Desa. “Jadi, anggota Paguyuban Paguyuban Empu Rahayu dapat meminjam permodalan dari kelompok dan Bumdes,” ujarnya.

Bumdes memiliki unit usaha dari rumah makan skala besar, toko kelontong, warung makan kecil, hingga pertamini (berdagang BBM). Ada juga kantor sekretariatnya. Ibu-ibu yang kesulitan modal dapat meminjam dana yang lebih besar di Bumdes dengan pengembalian atau cicilan sangat ringan. Kalau pinjam Rp500 ribu, mencicilnya tiap 2 minggu sekali Rp54 ribu, dipotong Rp5 ribu untuk tabungan warga desa. Ketentuan bunga 1,5 persen, perhitungannya 1 persen keuntungan untuk Bumdes dan 0,5 persen untuk biaya operasional.

Anggota Paguyuban Empu Rahayu sendiri ada 20 orang yang aktif dan 10 orang yang pasif. “Sayangnya, modal kami belum menjangkau seluruh anggota. Kas awal peguyuban berasal dari kelurahan Rp1,2 juta. Sebanyak Rp800 ribu digunakan untuk mengembangkan usaha dan sisanya untuk simpan-pinjam anggota. Kesulitan kami, anggota yang dipinjami modal malah macet. Dibantu dana lagi, justru kesulitan memutar usahanya,” tutur Lailiyah.

Dia pun dipercaya memegang jabatan Ketua Paguyuban Empu Rahayu sekaligus pengurus Bumdes. Nama “Empu” berasal dari kata empon-empon (rempah-rempah) yang biasa digunakan ibu-ibu sebagai bumbu masak di dapur. Sedangkan arti kata “Rahayu” merupakan doa para ibu. Begitulah Lailiyah dan anggota membuat berdaya mendirikan koperasi kecil yang semua anggotanya adalah perempuan bekas buruh migran.

Lailiyah optimistis, Paguyuban Empu Rahayu akan berkembang pesat. Setelah Kepala Desa Temuguruh menjanjikan akan menambah dana permodalan. “Permodalan akan saya tambah tahun 2018. Kegiatan pun akan diperluas. Saya siap membantu permodalan Paguyuban Empu Rahayu. Sekitar 20 juta dananya. Asal jelas kegiatannya untuk memberdayaan perempuan desa, karena dana desa itu untuk mengembangkan pembinaan dan pemberdayaan,” ujar Asmuni, Kepala Desa Temuguruh di sela-sela kesibukannya.

Asmuni menyambut positif gerakan Paguyuban Empu Rahayu untuk memajukan desanya—yang berorientasi menekan angka buruh migran dan meningkatkan usaha mandiri selevel UKM. “Saya tunggu proposalnya, kalau mau mengembangkan usaha. Desa ingin membuka pasar di bekas lahan sekolah, agar ibu-ibu mudah memasarkan produksinya,” ujar Asmuni.

Dukungan Kepala Desa sangat berarti bagi Paguyupan Empu Rahayu dan warga desa lainnya, terutama untuk menekan angka perempuan ke luar negeri sebagai buruh migran. Paguyuban juga membantu kehidupan petani dari jerat utang rentenir. Itu sebabnya koperasi simpan-pinjam menjadi penting.

Asmuni mengeluhkan, mayoritas para petani di desanya terjerat utang rentenir. Bahkan, rentenir atau “bank thithil” menyasar warung-warung warga. “Bunganya sangat tinggi, sampai 30 persen,” jelasnya. Bila warga desa meminjam Rp100 ribu harus mengembalikan Rp150 ribu ke rentenir.

Sebenarnya, kemandirian ekonomi perempuan eks buruh migran awalnya didorong oleh Indah Tukiman, jurnalis warga yang selama ini melakukan pendampingan dan sosialisasi, sehingga muncul gagasan membentuk Paguyuban Empu Rahayu.

“Semangat Bu Lailiyah mengajak teman-temannya sangat luar biasa. Saya senang, program desa dikembalikan ke warga desa. Sesuai Musrembang Desa, menyambung aspirasi warga desa dengan Kepala Desanya yang muda dan progresif. Apalagi, inovasi teknologi akan dikembangkan agar desa terkoneksi dengan warganya (buruh migran) di luar negeri,” ujar Indah.

Kebijakan Kepala Desa dinilai Indah sangat bersinergi dengan kepentingan warga desa. Asmuni tegas dengan sikapnya, tidak akan mengeluarkan surat izin bagi perempuan yang ingin menjadi buruh migran, bila yang bersangkutan tidak memiliki keterampilan dan tidak mengantongi izin keluarga. Tanpa surat rekomendasi yang bertandatangan Kepala Desa, warga desa tidak bisa berangkat atau menjadi buruh migran ke luar negeri.

Anggaran desa juga dikelola dengan transparan, bahkan warga dapat mengakses pagu hingga pengeluaran anggaran pembangunan desa  melalui website resmi desa www.desatemuguruh.com dengan menggunakan jaringan internet fiber optic.

“Fasilitas wifi di desa gratis, silakan saja memanfaatkannya,” ujarnya. Bahkan, pengurusan dokumen di desa Temuguruh sudah dimulai online sejak Juli 2017, mulai dari pembuatan akta kelahiran, surat pernyataan miskin, hingga subsidi listrik. Pada tahun 2018 ini, Desa Temuguruh mewakili Kabupaten Banyuwangi dalam Kompetisi Smart Kampung.

Artikel Terkait

Warga Petebang Keluhkan Lambannya Aliran Listrik bagi Masyarakat

admin

Kiprah Radio Benor FM Di Belantara Jambi

admin

Media Sosial Meningkatkan Penjualan

mr

Tinggalkan Komentar

X