Image default
Liputan Jurnalis Warga

Puskesmas Kota Timika Bersiap Raih Akreditasi

Jam 5 sore, Mama Regina membawa kakaknya yang sakit sambil mengasuh tiga bocah kecilnya. Seharusnya, sore hari, pelayanan Puskesmas Kota Timika sudah tutup. Tetapi, Puskesmas tetap melayani pasien yang datang dari jauh.

Perempuan suku Amungme itu berbahasa Indonesia dengan terbata-bata. Dia mengisahkan ketidaksengajaannya berada di Timika. “Saya dan keluarga dievakuasi sejak 22 November dari desa Banti oleh aparat keamanan dengan menggunakan truk ke Timika. Desa-desa di distrik Tembagapura dibakar, karena aparat mencari OPM tidak ketemu. Desa-desa sudah kosong, dan kami tak tahu sampai kapan mengungsi. Entahlah, siapa yang membakar desa-desa sampai hangus, dan jadi abu,’ ungkapnya.

Mama Regina pun belum bertemu suaminya sejak dua bulan, setelah kerusuhan terjadi di distrik Tembagapura. “Kami makan seadanya dari hasil kebun untuk bertahan hidup. Tidak pegang uang sama sekali. Suami masih di atas, belum berani turun,” jelas perempuan dari desa Banti, distrik Tembagapura ini. Selama mengungsi di Timika, dia manfaatkan waktu untuk mengantar kakaknya berobat di puskesmas. “Berobat gratis saja,” ujarnya.

Untunglah, meski datang sore, Mama Regina masih dilayani. Kesibukan di Puskesmas masih berlangsung hingga sore hari. Puskesmas ini memang sedang menyiapkan diri untuk memeroleh akreditasi. Selama proses persiapan akreditasi untuk puskesmas, para dokter, perawat, bidan, dan bagian administrasi bekerja hingga malam. “Proses administrasi perlu disiapkan berdasarkan bukti tertulis yang kita kerjakan selama ini. Ada 700 lebih item yang menjadi penilaian. Tim penilainya dari Jakarta dan Sulawesi,” ujar Nurmala Kahar, bidan puskesmas itu.

Puskesmas Timika pun membenahi pelayanan pasien, meningkatkan fasilitas kesehatan, dan memperbaiki mutunya. Lorong-lorong ruang perawatan hingga bangsal-bangsal pasien tampak bersih, rapi, dan catnya baru. Kondisi lingkungan dan sanitasi juga tampak sangat bersih.

Maklum, di Kabupaten Mimika, hanya dua puskesmas yang dianggap layak meraih akreditasi, yaitu Puskesmas Kota Timika dan Puskesmas Timika Jaya. Sejak Februari 2016, Puskesmas Kota Timika aktif melakukan pendampingan ke masyarakat. Mereka berkomitmen untuk terus melayani kesehatan warga Timika. “Bukti komitmen itu ditandatangani semua staf  puskesmas di lintas sektor,’ jelas Nurmala.

Puskesmas yang membawahkan tujuh kelurahan itu terus bergerak maju, meskipun bebannya semakin berat setiap tahun. Sebagai puskesmas paling besar di Papua dan sebagai puskesmas induk, Puskesmas Kota Timika memang harus menjadi contoh,.

Di Timika khususnya, puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten atau kota yang mempunyai fungsi utama sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan tingkat pertama.Wilayah kerja puskesmas maksimal satu distrik. Untuk dapat menjangkau wilayah kerjanya, puskesmas mempunyai jaringan layanan yang meliputi unit puskesmas pembantu (pustu), unit puskesmas keliling (puskel), dan unit bidan desa atau komunitas.

Jika akreditasi membuat kinerja Puskesmas Kota Timika dan jaringannya makin baik, semoga Mama Regina dan warga lainnya mendapatkan pelayanan kesehatan yang makin baik pula.

Tinggalkan Komentar

X