Image default
Jurnalisme Warga

Media Sosial Meningkatkan Penjualan

Desain visual Naura Kitchen tampak elok di akun Instagram, Facebook dan Whatsapp. Komposisi foto dan warnanya cukup menarik. Semakin banyak follower yang berkomentar positif. Pesanan mi hijau (mi sambal ijo) dan mi ungu  (mi dragon ungu) ala Naura Kitchen semakin bertambah. Pelanggan ikut membantu menyebarkan informasi dengan melakukan tag di akun Facebook. Testimoni orang di media sosial dapat meningkatkan angka penjualan. “Pernah sold out 22 porsi dalam sehari,“ ujar Devi Nurlaili, pemilik Naura Kitchen.

Ibu muda ini hampir memutuskan pergi ke Singapura, menjadi buruh migran. “Mau kerja sebagai penjaga orang tua di panti jompo,’ ujarnya. Tapi, ia batal pergi karena kondisi fisiknya dinilai tidak fit oleh perusahaan. Sampai saat ini,  ijazah SMA Devi masih ditahan pihak Perusahaan Jasa Pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI) yang berpusat di kota Malang, Jawa Timur.

Namun, itu cerita lama, Devi enggan mengingatnya. Kini, Devi gemar mengutak-atik smartphone-nya. Perempuan 23 tahun ini aktif memainkan aplikasi untuk mendesain foto kuliner dan mengunggahnya di media sosial. Di zaman teknologi digital, interaksi pembeli dan penjual semakin dekat. Banyak ide-ide unik dan kreatif justru datang dari konsumen. Devi tidak mau gagap dengan teknologi digital. “Saya ingin mempelajari desain grafis agar promosi atau marketing saya semakin menarik dan sukses. Ingin membuat variasi mi dengan harga merakyat dan desain kemasan yang keren,’ ujarnya.

Naura Kitchen diciptakan Devi agar konsumen di kalangan anak muda tertarik pada pesan visual dan bahasa yang terkesan modern. Devi meracik bumbu sendiri, lalu memasak dan mempromosikan, sekaligus melayani pesan-antar (delivery order) dengan sepeda motor. “Minimal empat bungkus, free ongkos kirim kalau masih di desa sini. Kalau luar desa, jaraknya 5-10 kilometer, ditambah ongkos kirim Rp5 ribu-10 ribu. Tergantung jarak, sih,’ jelasnya.

Devi membuat mi hijau dan mi ungu dengan pewarna alami. Warna hijaunya berasal dari daun bayam, sawi, suji, dan pandan, sedangkan warna ungu dari kulit buah naga. Selain menjual menu mi goreng, ia juga menawarkan menu lain, seperti tempe geprek dan nasi tempong. Selain itu, dibantu ibunya, Sumiati (49), Devi juga membuat usaha opak singkong. “Biasanya, saya produksi 6 kwintal per bulan. Bahannya dari singkong, saya beli dari petani,” ungkapnya.

Sekarang, keterbatasan modal menjadi masalah Devi. Selama ini, pilihan Devi tak lain meminjam modal usaha kepada Paguyuban Empu Rahayu sebesar Rp500 ribu. “Mimpi saya, suatu hari nanti punya kafe dan bisa mengirim mi ke luar kota,’ ujar Devi. Tentunya, untuk itu, ia juga akan terus memanfaatkan media sosial untuk meningkatkan penjualan.

 

Artikel Terkait

JW Kayong Solidaritas Mendorong Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Gender

admin

Fitriani, Jurnalis Warga yang Dipercaya Menjadi Wakil Ketua BUMDes

admin

Keterbukaan di Desa Sikasur-Pemalang berkat Jurnalis Warga

admin

Tinggalkan Komentar

X