Image default
Jurnalisme Warga

Keterbukaan di Desa Sikasur-Pemalang berkat Jurnalis Warga

Para ibu rumah tangga, guru, penjahit, dan pedagang menjadi jurnalis warga untuk bahu-membahu membangun ruang keterbukaan di Desa Sikasur, Pemalang. Tak mudah, tetapi akhirnya mereka berhasil.

Jurnalisme warga di Desa Sikasur, Kecamatan Belik, Kabupaten Pemalang, awalnya tentu merupakan hal baru di desa. Wajar bila kehadirannya pertama kali masih sulit diterima, baik oleh warga maupun bagi pemerintah desa. Apalagi, kebanyakan warga selama ini tidak terlibat dalam kegiatan-kegiatan di desa, terlebih warga perempuan. Komunikasi antara warga dan pemerintah desa pun tidak selalu terbuka. Karena itu, upaya mengajak mereka menjadi jurnalis warga (JW) jadi tak mudah.

Warga Desa Sikasur rata-rata adalah warga yang bekerja sebagai ibu rumah tangga, guru, penjahit, dan pedagang. Segala persoalan di desa seolah tak jadi perhatian mereka. Padahal, segala persoalan tersebut menyangkut hidup mereka sendiri. Jangankan menyampaikan dalam bentuk tulisan, menyampaikan kritik secara lisan pun tidak.

Upaya sosialisasi dan literasi pun terus dilakukan oleh Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) kepada warga tentang pentingnya JW bagi kehidupan warga sendiri. Tahap utama tentu membuat warga memahami kepentingan tersebut. Perlahan, sebagian warga akhirnya menyadari dan mau terlibat menjadi JW.

Tahap berikutnya ialah memberikan pelatihan membuat tulisan jurnalistik kepada warga Sikasur pada Maret 2017. Kebanyakan warga peserta pelatihan pun mengaku sangat senang karena mendapatkan ilmu baru. Sejak itulah mereka mulai berpraktik menulis. Para JW baru tersebut mulai menuliskan tentang situasi desa. Liputan JW bermacam-macam. Ada berita kegiatan, artikel wisata, dan lain-lain.

Adalah Nur Fatikhah, salah satu JW yang konsisten dalam menulis tentang desanya. Ia bahkan juga terlibat dalam tim selapanan, sebuah pertemuan rutin yang diinisiasi sebuah lembaga non-profit, Formasi dan diadakan setiap selapan (35 hari) menurut perhitungan hari Jawa.

“Sebelumnya, basic saya adalah ibu rumah tangga yang tidak tahu tulis menulis. Saat bergabung sebagai JW, awalnya bingung. Tapi, pelan-pelan, saya berani menulis,” kata Fatikhah ketika ditemui dalam acara launching jurnalis warga PPMN di Pemalang.

Fatikhah bahkan mengaku merasakan perubahan dalam hidupnya. “Saya mulai dikenal di desa dan berani menyampaikan pendapat di hadapan orang banyak,” tuturnya.

Salah satu semangat yang diusung para JW di Sikasur, tentunya termasuk Fatikhah, ialah semangat keterbukaan informasi antara warga dan pemerintah desa. Namun, upaya JW tidak berjalan mulus-mulus saja.

 

Beda pendapat berbuah manis

Pernah terjadi perbedaan pendapat antara JW Sikasur dan pemerintah desa. Pemicunya ialah tulisan salah satu JW tentang seorang anak difabel bernama Galih. Anak yatim ini diceritakan memiliki keinginan bersekolah namun belum tercapai. Pemerintah desa minta agar berita tersebut tidak dipublikasikan karena menganggap kurang pantas. Sementara, JW berpendapat bahwa cerita semacam ini justru harus diangkat ke permukaan agar menjadi perhatian utama. Salah satu pijakannya ialah semangat keterbukaan.  

Tanggap atas perbedaan pendapat ini, Koordinator Jurnalis Warga (KJW) PPMN, Lukmanul Hakim ikut bertemu Kepala Desa Sikasur, Kusin. Mereka memberikan pemahaman soal pentingnya keterbukaan desa. Pemberitaan soal Galih merupakan salah satu bentuk keterbukaan antara pemerintah dan warga desa. Kusin sependapat. Ia pun menganggap perbedaan pendapat itu wajar, apalagi masih di awal program JW.

Para perempuan dan warga yang tergabung dalam kegiatan Selapan

“Saya kira itu wajar, apalagi kemudian JW langsung koordinasi ke saya dan menyampaikan tentang berita tersebut,” ujar Kusin. Ia pun menawarkan diri aktif membantu. Kusin malah menawarkan modal agar JW bisa mandiri. “Karena, kiprah JW sudah bagus,” ujar Kusin kepada KJW PPMN, Lukmanul Hakim.

Kusin menambahkan, “Kalau menemukan kasus difabel atau lainnya, koordinasi saja ke desa. Ayo kita cari solusinya.” Faktanya, berita tentang Galih kemudian membuatnya mendapatkan bantuan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Pemalang. Pemberitaan Galih pun mendapat respons dari masyarakat sekitar. Banyak warga yang membantu. Sejumlah guru TK juga siap menyekolahkan dan menggratiskan biayanya.

Tak berhenti di Galih, pemerintah desa pun lalu lebih giat memerhatikan dan membantu keluarga miskin di desa.

Buah manis juga dirasakan oleh Nur Fatikhah. Keaktifannya menulis dan terlibat dalam tim selapanan membuat Pemerintah Desa memasukkan dirinya dalam tim penyusun Rencana Kegiatan Pembangunan Desa (RKPDes) tahun 2018. “Karena, pembentukan tim penyusun harus melibatkan kelompok perempuan,” papar Nur Fatikhah.

Namun, Nur Fatikhah tetap sering meliput kegiatan-kegiatan desa. Bahan tulisannya jadi bertambah karena sering diundang untuk rapat desa. Salah satu tulisan Nur Fatikhah berkaitan dengan itu berjudul “Meminimalkan Kasus Gizi Buruk dengan Pemberian Makanan Tambahan”.

 

Mading sebagai simbol keterbukaan

Dukungan Pemdes Sikasur salah satunya ditandai dengan adanya majalah dinding (Mading) di tengah kantor pemerintah desa. Mading tersebut berisi tulisan para JW binaan PPMN.

Nangkringnya mading di kantor desa dapat dikatakan sebagai buah upaya JW bersama Formasi. Mereka memang secara intensif melakukan komunikasi dengan pemerintah desa. Komunikasi selalu dilakukan untuk berkomitmen membuka ruang informasi dan keterbukaan di desa.

Keberadaan mading membuat para JW makin gencar menulis dengan berbagai topik. Contohnya, topik adminduk, pendidikan, kesehatan, wisata, dan potensi desa. Keterbukaan pemdes juga telah membuat JW mudah mendapatkan akses dalam mempublikasikan informasi desa.

Banyak tulisan JW yang dianggap membangun desa karena menginformasikan kegiatan-kegiatan Desa Sikasur. Salah satunya adalah tentang potensi warga desa dan wisata desa yang bisa mendatangkan wisatawan di desa. “Jurnalisme warga saya anggap sebagai juru bicara desa yang dapat mempromosikan berbagai potensi desa yang ada,” ujar Kusin.

“Intinya,saya sangat senang dengan keberadaan jurnalis warga. Tentu ada hal-hal yang tidak saya ketahui soal desa. Adanya tulisan-tulisan ini sangat membantu saya,” kata Kusin. Namun, Kusin juga mengimbau para JW agar tetao selektif dalam mengekspose sebuah berita, agar hal-hal yang tidak kita inginkan tidak akan pernah terjadi.

Tampaknya mading tidak akan menjadi satu-satunya media informasi di Sikasur. Saat ini artikel ini ditulis, pemerintah desa sedang merancang sebuah website desa. Website desa ini akan diisi dengan tulisan-tulisan JW tentang potensi desa. Untuk yang akan datang, Kusin akan mengajak JW terlibat untuk mengurus website desa.

Artikel Terkait

JW Kayong Solidaritas Mendorong Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Gender

admin

Fitriani, Jurnalis Warga yang Dipercaya Menjadi Wakil Ketua BUMDes

admin

Jurnalisme Warga, Ujung Tombak Perubahan

admin

Tinggalkan Komentar

X