Image default
Jurnalisme Warga

Fitriani, Jurnalis Warga yang Dipercaya Menjadi Wakil Ketua BUMDes

“Saya memilih untuk menjadi jurnalis warga demi membawa perubahan bagi
pembangunan desa.”

Dari semula sangat apatis kini menjadi sangat kritis. Itulah Fitriani. Gadis muda warga Desa
Paku ini berpikir bahwa masalah desa hanyalah urusan kepala desa dan perangkat lainnya.
Tak heran, ia tidak aktif sama sekali dalam hal pembangunan desa, apalagi menjadi bagian
dari tokoh atau pengurus di desanya.

Cukup banyak persoalan yang ada di desanya. Tetapi, hal itu tak membuat Fitriani tergerak.
Ia berpikir, sudah ada orang-orang yang mengurus segala persoalan itu. Lalu, sebuah pelatihan jurnalis warga di desanya menjadi salah satu fase penting yang
mengubah sikap Fitriani. Matanya jadi terbuka bahwa sebagai warga biasa, ia bisa
berkontribusi bagi penyelesaian persoalan di desanya. Salah satunya dengan cara bersikap
kritis lewat tulisan, tulisan kritik yang membangun.

“Sekarang, saya sadar bahwa desa adalah milik semua warga. Jadi, semua persoalan desa
menjadi tanggung jawab kita bersama,” kata perempuan kelahiran 1991 ini.

Saat itu, ia belum tahu bahwa kesadarannya itu bakal berbuah kepercayaan menjadi Wakil
Ketua Badan Usaha Milik Gampong (BUMG) atau populer disebut BUMDes.
Tak ayal, bentuk tanggung jawab Fitriani diawalinya dengan menjadi jurnalis warga di
tempat tinggalnya, Desa Paku, Kecamatan Simpang Mamplam, Kabupaten Bireuen, Aceh.
Pelatihan jurnalisme warga pun ia ikuti. Lalu, Fitriani bergabung dalam jurnalisme warga
SAPP.

Tak cuma ikut-ikutan, lulusan SMA tahun 2017 ini termasuk jurnalis warga yang paling aktif
menulis dibandingkan teman-temannya. Fitriani memang kritis melihat berbagai persoalan di
desanya. Sikap kritis itu sering dituangkannya ke dalam tulisan jurnalistik. Karena itulah ia
jadi produktif menulis. Produktivitas Fitriani membuatnya menjadi narasumber di acara Launching JW pada Juni 2017.

Momentum itulah yang membuat aparat desa mulai mengenal Fitriani. Namun,
keaktifannya menulis secara kritis persoalan desa tak membuatnya ‘dimusuhi’ aparat desa.
Fitriani malah dipilih aparat desa menjadi wakil ketua BUMG.
“Alhamdulillah, saya juga dipercaya menjadi pengawas BUMG oleh aparatur desa. Saya
senang sekali, dan akan menjalankan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya,” cetus
Fitriani.

Memang, ketika itu, aparat desa mencari perempuan muda yang aktif di desa dan
mempunyai pandangan soal pembangunan desa. Pemerintah desa membutuhkan
representasi anak muda yang aktif dan mau bekerja untuk desa.
Maka, dipilihlah Fittriani sebagai salah satu perempuan muda untuk menjadi bagian dari
kepengurusan desa. Ia pun rajin ikut kegiatan-kegiatan yang berlangsung di Desa Paku.

Menjadi bagian penting di BUMG tak melunturkan sikap kritisnya. Fitriani tetap aktif menulis
tentang desanya, baik hal positif maupun negatif. Ia, misalnya, menulis persoalan pengaspalan jalan di desa yang tak kunjung direalisasikan. Tulisan tersebut dimuat di media
mainstream Aceh, yakni kabarbireuen.com.

Sejumlah pengurus BUMDes berpose di depan mobil milik BUMDes. Foto: Fitriani (kabarbireuen.com)

Fitriani juga menulis hal positif yang terjadi di desanya, yakni pembelian mobil untuk
transportasi murid-murid sekolah di desanya, juga dimuat di kabarbireuen.com.
Tekad Fitriani untuk membangun desa memang tidak diragukan lagi. Ia selalu bersemangat
untuk terlibat dalam pembangunan desa. Keterlibatannya tentu dapat berupa tulisan kritis
sebagai jurnalis warga, jembatan yang membawanya dari sikap apatis menjadi kritis.

Sejumlah tulisan yang ditulis Fitriani tentang desa yang dimuat di media mainstream
antaralain:
1. Anggaran Pendapatan Belanja Gampong (APBG) 2017 
2. Realisasi pengaspalan jalan di desa tertinggal 
3. BUMG membeli mobil untuk transportasi 

Artikel Terkait

Suara Kritis Jurnalis Noken Cilik

admin

Warga Petebang Keluhkan Lambannya Aliran Listrik bagi Masyarakat

admin

Jurnalis Warga Carztens Suarakan Layanan Kesehatan

admin

Tinggalkan Komentar

X