Image default
Opini

Mempertahankan Jurnalisme 

Oleh Fransisca Ria Susanti 

Jurnalisme tamat riwayat. Kekhawatiran ini disampaikan seorang jurnalis senior, salah satu pendiri koran nasional terkemuka di Indonesia. Padahal lima tahun lalu, ia masih punya optimisme akan masa depan jurnalisme. 

Lima tahun lalu ia masih merasa bahwa disrupsi teknologi tidak akan membunuh jurnalisme. Teknologi hanyalah soal kemasan, bukan substansi. Sehingga alih-alih mencemaskannya, jurnalisme justru bisa memanfaatkan teknologi untuk menguatkan esensinya. Pun setelah koran ia dirikan harus tutup layar di akhir tahun 2015 karena tak sanggup bersaing di era digital, jurnalis tersebut masih mengantungi optimisme bahwa jurnalisme masih memiliki umur panjang. 

Namun awal tahun 2019, optimisme yang ia miliki meredup. Ia mulai khawatir dengan  maraknya situs berita agregator, sikap keranjingan pengguna telepon pintar yang menyebarluaskan informasi tanpa perlu memverifikasi kesahihannya, algoritma media sosial yang mendorong orang hanya membaca berita yang mereka sukai, dan pilihan orang untuk mencari berita melalui mesin pencari dibanding langsung melongok portal berita. 

Survei Edelman Trust Barometer 2019 menunjukkan bahwa media, bersama dengan pemerintah, masih menjadi pihak yang paling kurang dipercaya dibanding institusi bisnis. Meskipun tingkat kepercayaan publik kepada media meningkat 3 persen dari tahun sebelumnya, tapi masih tetap di bawah 50 persen, yakni dari 43 persen menjadi 47 persen. Survei yang dilakukan World Association of Newspapers and News Publishers (WAN-IFRA) tahun 2018 juga menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan publik ke media merosot dari tahun  ke tahun.

Merosotnya kepercayaan kepada pilar keempat demokrasi ini terutama disebabkan oleh  platform digital media itu sendiri, dan juga keberadaan mesin pencari serta media sosial. Sebanyak 63 persen responden, menurut survei Edelman,  tidak bisa membedakan good journalism yang menjunjung tinggi disiplin verifikasi dengan rumor atau “jurnalisme sampah”. Ketidakpercayaan pada media ini juga menyebabkan ketidakmampuan untuk mengidentifikasi kebenaran, kepercayaan kepada pemimpin pemerintahan, dan kepercayaan bisnis.  Temuan ini yang agaknya  juga memicu pesimisme jurnalis senior tersebut. 

Namun kekhawatirannya bahwa jurnalisme akan tamat riwayat agaknya terlalu berlebihan. Survei WAN-IFRA 2018 menunjukkan bahwa meskipun kepercayaan kepada media rendah, tapi kepercayaan publik kepada jurnalis dan kualitas jurnalisme mengalami peningkatan. 

Fakta bahwa banjir informasi  mengecambahkan hoaks dan fake news dan  kekhawatiran   banyak orang bahwa fake news akan jadi  amunisi konflik horizontal, menjadikan jurnalisme justru punya peluang lebih besar untuk memperkokoh posisinya. 

Saat dimana banyak orang kebingungan mengidentifikasi fakta, sebuah sumber berita yang kompeten dan kredibel menjadi penting. Pada poin inilah, riwayat jurnalisme masih jauh dari tamat. 

Jurnalisme yang Berdampak 

Sejauh ini,  cara media untuk mempertahankan riwayat agar tak tamat adalah lewat hitungan oplah, rating, clickbait atau pun web traffic. Sebuah cara yang disadari atau tidak akam menamatkan riwayat jurnalisme itu sendiri. Alihalih berlomba menyajikan laporan jurnalistik yang baik, media akan berlomba menyajikan laporan sensasional demi meraup clickbait. Esensi jurnalisme pelan-pelan tersingkir dan mati oleh ulah ceroboh institusi media itu sendiri guna mempertahankan eksistensinya. 

Jika kita setuju dengan pendapat Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, tujuan utama jurnalisme adalah menyediakan informasi yang dibutuhkan warga agar mereka bisa mengambil keputusan terbaik bagi hidup mereka, bagi komunitas mereka, bagi masyarakat mereka, dan bagi pemerintah mereka.

Tujuan ini muskil dicapai jika institusi media berkutat dalam hitungan clickbait dan web traffic alih-alih menghitung dampak sosial. Web traffic sama sekali tidak membuat kita tahu apakah orang yang membaca berita tersebut kemudian merasa mendapatkan sesuatu atau bertambah pengetahuan baru atau terdorong menggerakkan perubahan. 

Kegelisahan ini menghinggapi banyak jurnalis. Bagaimana cara membuat jurnalisme masih bermakna dan berdampak bagi publik di tengah disrupsi teknologi dan internet saat ini? Bisakah era big data saat ini mengembalikan tujuan utama jurnalisme?

Di Jerman, Correctiv—sebuah lembaga media nonprofit—mencobanya dengan platform crowdnewsroom.  Ini adalah platform daring untuk menghimpun data dari komunitas masyarakat mengenai kasus atau isu tertentu. Informasi dari platform tersebut kemudian ditindaklanjuti para jurnalis. 

Bekerja dengan platform seperti crowdnewsroom, kerja jurnalis bukan semata membuat outline liputan, meriset, reportase, dan menulis, tetapi juga menggalang kampanye. Sebelum meliput, Correctiv bekerja sama dengan media atau komunitas lokal untuk menggelar diskusi publik tentang topik yang hendak diinvestigasi. Semua pihak terkait dengan topik yang hendak diinvestigasi diundang, termasuk dari kalangan pemerintahan maupun korporasi.

Pelibatan masyarakat juga dilakukan AlgorithmWatch, sebuah lembaga riset yang akhirnya bertanformasi menjadi institusi media nonprofit. AlgorithmWatch melakukan audit eksternal terhadap mesin pencari Google dengan melibatkan sebanyak 3.000 relawan yang mengunduh dan memasang plugin. Mereka ingin mendeteksi apakah ada kontribusi bias algoritma Google dalam keputusan politik  seseorang dalam Pemilu Jerman. 

Baik Correctiv maupun AlgorithmWatch menggandeng media mainstream, seperti Spiegel Online dan Der Taggesspiegel dalam kerja-kerja crowdnewsroom ini. 

Inisiatif crowdnewsroom yang dilakukan Correctiv maupun AlgorithmWatch sebenarnya bukan hal baru. ProPublica di Amerika Serikat telah melakukannya  untuk menelusuri jejak dana kampanye pemilu  dan menginvestigasi penggunaan bahan kimia oleh militer Amerika Serikat dalam perang Vietnam. International Consortium of Investigative Journalist (ICIJ) membuat database dari bocoran Panama Papers, juga Offshore Leaks dan Bahamas Leaks, sehingga para jurnalis yang berkepentingan bisa turut menandai nama atau petunjuk yang mereka cari.

Di Indonesia, sejumlah institusi media—baik profit maupun nonprofit—sebenarnya telah memiliki inisiatif untuk melibatkan publik dalam kerja-kerja jurnalistik, tapi sebatas penjaringan ide liputan atau menghimpun dana publik (crowdfunding) untuk proyek liputan tertentu. Belum ada yang mencoba untuk membangun platform crowdnewsroom seperti dilakukan Correctiv maupun Propublica. 

Namun sebuah inisiatif yang dirilis oleh Google dan Facebook baru-baru ini akan menjadi sebuah paradoks yang menarik. Meskipun dua raksasa teknologi informasi tersebut di satu sisi menjadi yang “tertuduh” di era disrupsi teknologi, keduanya dapat berkontribusi dalam “penyelamatan jurnalisme”. 

 

Awal tahun ini Facebook mengumumkan akan menginvestasikan US$ 300 juta untuk mendukung kapasitas organisasi berita lokal. Inisiatif Facebook ini mengikuti jejak Google yang telah mengumumkan inisiatif serupa tahun lalu.  

Inisiatif ini bisa menjadi pintu masuk bagi institusi media, terutama institusi media lokal guna meningkatkan kapasitas jurnalisme mereka. Tujuan utama jurnalisme untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan warga  agar mereka bisa mengambil keputusan terbaik bagi hidup mereka dapat terpenuhi ketika institusi media dapat menggunakan kemajuan teknologi untuk melibatkan warga dalam kerja jurnalistik. 

Jika yang menjadi kepedulian institusi media adalah tujuan utama jurnalisme, dan bukan semata harapan hidup perusahaan media, maka jurnalisme masih bisa bertahan di era disrupsi. Riwayatnya masih jauh dari tamat. ***

Fransisca Ria Susanti, manager program Jaringan Indonesia untuk Jurnalisme Investigasi (JARING)

Artikel ini dimuat pula oleh Koran Tempo pada rubrik Opini pada 11 Februari 2019 dengan judul Jurnalisme dan Pelibatan Publik.

Tinggalkan Komentar

X