Upaya Selamatkan Jalak Bali yang Terancam Punah

Sebuah organisasi konservasi lokal di Bali mendorong siswa sekolah untuk menggambar, memberi makan dan mengenal maskot satwa liar pulau itu, Jalak Bali.

Ini bagian dari upaya menyelamatkan burung yang terancam punah itu.

Jalak Bali hanyalah satu dari sekian banyak hewan yang terancam punah akibat maraknya perdagangan hewan di Indonesia.

Koresponden Asia Calling kBR, Nicole Curby, menyusun laporan selengkapnya dari Bali.

Ada falsafah Jawa yang menyebut seorang pria dianggap sukses kalau sudah punya rumah, istri, keris dan burung.

Keyakinan ini tampaknya menjadi faktor terbesar di balik perdagangan burung di Indonesia. Akibatnya, sejumlah spesies burung terancam punah.

Bagi burung Jalak Bali, kecantikan mereka adalah kutukan.

Mehd Halaouate Clip 1 (Male, English): "Badannya berwarna putih dengan garis hitam tipis di sayap dan topeng biru di sekitar mata. Anak-anak di sini mengatakan burung ini punya topeng zoro. Mereka adalah spesies yang indah. Dan keindahan ini membuat mereka sangat dicari para kolektor.”

Itu adalah Mehd Halaouate, manajer pembiakan dan pelepasan di Yayasan Begawan Bali.

Saat ini ada 60 burung yang sedang dirawat di sana.

Mehd Halaouate Clip 2 (Male, English): “Ketika kami lihat ada sepasang burung yang sering bersama-sama, kami pindahkan mereka ke sangkar bulan madu. Di dalamnya hanya ada mereka berdua. Mereka akan diberi banyak makanan dan dibuatkan sarang dan mereka akan memulai sebuah keluarga.”

Strategi ini berhasil meningkatkan jumlah burung di tempat penangkaran ini.

Meski Jalak Bali dilindungi, keberadaannya masih terancam. Diperkirakan hanya ada sekitar 75-100 ekor di alam liar saat ini.

Kembali Mehd Halaouate.

Mehd Halaouate Clip 3 (Male, English): “Mereka masih terjebak di Taman Nasional Bali Barat dan Nusa Penida. Burung ini dijual dengan harga sekitar lima juta rupiah. Masalahnya, generasi muda melihat harga Jalak Bali sebagai setara dengan iphone atau ipad. “

Tahun lalu, LSM Traffic menghitung ada 1.900 burung, dari 206 spesies berbeda. Mereka dijual di tiga pasar burung di Jakarta hanya dalam waktu tiga hari.

Dan tidak semua burung yang dijual adalah legal.

Pada bulan Mei lalu, LSM Scorpion menemukan ada 1.500 burung dan binatang lain yang dijual di Pasar Hewan Muntilan di Magelang, Jawa Tengah, tanpa izin.

Gunung Gea dari Yayasan Scorpion mengatakan tidak sulit untuk menemukan spesies yang dilindungi, dijual di pasar satwa liar di Indonesia.

Gunung Gea Clip 1 (Male, English): “Sudah satu tahun kami mulai memantau pasar satwa liar di Indonesia. Kami selalu menemukan satwa yang dilindungi ada di pasar. Penegakan hukum juga sangat lambat melawan perdagangan satwa liar ilegal ini.”

Meski ada LSM yang memantau pasar satwa liar, tanpa dukungan dari penegak hukum, mereka tidak bisa menghentikan perdagangan ilegal.

Juni lalu, 25 LSM yang fokus pada satwa liar dari seluruh Indonesia membentuk koalisi untuk mendesak pemerintah lebih tegas menghentikan perdagangan satwa liar dan penjualan ilegal.

Mereka ingin aturan membawa satwa liar diperketat dan kebijakan yang lebih efektif bila ada laporan soal perdagangan satwa liar.

Gunung Gea Clip 2 (Male, English): “Kami ingin pemerintah lebih serius dalam menghadapi kejahatan satwa liar di Indonesia. Meski sudah ada unit respon cepat polisi hutan, mereka sangat lambat bertindak.”

Pada 2006 hingga 2007, ada 65 Jalak Bali yang dilepasliarkan di Nusa Penida, di tenggara Bali.

Meski awalnya sempat mencapai 120 ekor, tapi dalam waktu tiga tahun jumlahnya turun drastis hingga tinggal 12 ekor saja.

Mehd Halaouate Clip 4 (Male, English): "Audit terakhir yang kami lakukan, kami hanya menemukan 12 ekor burung. Kami juga menemukan perangkap, tali yang tergantung di pohon-pohon, dan lubang di sarang yang cukup besar untuk memasukkan tangan manusia.”

Tempat penangkaran seperti Yayasan Begawan berhasil meningkatkan jumlah burung yang terancam punah.

Tapi selama burung-burung itu terus ditangkapi, tidak ada tempat yang bisa digunakan untuk melepas burung-burung itu.

Kini Yayasan Begawan mencoba untuk mendorong para pelajar dan kaum muda untuk merawat dan melindungi burung langka ini.

Mehd Halaouate  Clip 5 (Male, English): "Itu semua tergantung pada generasi muda. Kita bisa melakukan begitu banyak di sini. Tapi jika generasi muda tidak yakin burung ini perlu diselamatkan, maka apa yang kami lakukan ini menjadi sia-sia.”

Untuk Asia Calling KBR, laporan ini disusun Nicole Curby dari Bali.