KBR, Warga yang sudah sadar akan ancaman hilangnya mata air dari Gunung Watu Putih masih terus menolak kehadiran pabrik dan tambang semen. Beberapa dari mereka mulai digoyang dengan tawaran uang dan berbagai fasilitas untuk ikut mendukung kehadiran PT Semen Indonesia. Namun warga teguh menolak, bahkan menggugat Gubernur Jawa Tengah untuk mencabut izin yang pernah dikeluarkan untuk Semen Indonesia.

Pembangunan pabrik semen dan tambang kapur oleh PT Semen Indonesia tak hanya menuai kontra, tapi juga menanggok banyak dukungan warga lainnya. Mereka yang mendukung pembangunan pabrik semen mengaku tergiur dengan lowongan pekerjaan yang ditawarkan.

KBR, Proses penyusunan AMDAL PT Semen Indonesia dipersoalkan warga. Mulai dari partisipasi warga yang terabaikan, sampai ke pelanggaran tata ruang dan wilayah Rembang dan juga Jawa Tengah. Tapi ibarat pepatah, anjing menggonggong, kafilah berlalu, kegiatan pembangunan pabrik dan kegiatan tambang tetap berlanjut. Sementara pemerintah daerah membiarkan perusahaan plat merah menerabas aturan yang mereka buat untuk menjaga lingkungan hidup di Rembang.

Meski kajian AMDAL PT Semen Indonesia untuk membangun pabrik dan kegiatan penambangan kapur di kawasan Gunung Watu Putih meragukan,

KBR, Mengantongi berbagai izin dan AMDAL, PT Semen Indonesia berkeras mulai membangun pabriknya di Rembang. Tapi di tempat yang sama, warga masih memprotes dengan membangun tenda perlawanan di tapak pabrik. Warga yakin data dalam AMDAL tak sesuai kenyataaan, penuh manipulasi.

“Soalnya aku gak tahu, aku kan buta huruf mbak. Yang namanya AMDAL segede apa juga gak tahu. Waktu itu juga gak pernah diajak rembukan. Makanya aku gak tahu AMDAL itu yang kayak gimana. Yang tandatangan aku juga gak tahu, pasti orang tertentu.”

KBR, Warga penolak PT Semen Indonesia di Rembang tak ingin kehidupannya terganggu. Mereka sudah nyaman bertani. Namun yang mengusik mereka adalah ancaman hilangnya mata air bagi sawah, ternak, dan warga Rembang. Para petani menjelaskan peran penting mata air di kawasan karst Watu Putih terhadap kehidupan mereka.

“Logikanya begini. Sekarang kan sudah ada tambang kecil-kecilan. Sepuluh tambang apa berapa gitu. Lha itu saja airnya kalau direbus sudah agak putih, agak lengket di panci. Ya memang di kalo air disini mengandung zat kapur, tapi kan nggak terlalu kayak gini mbak.”

KBR, Ratusan perempuan tani sudah hampir tiga bulan menghuni tenda di tengah hutan, persis dekat kawasan Watu Putih Gunung Kendeng Utara. Di sana mereka berunjuk rasa, mendesak perusahaan dan pemerintah daerah segera menghentikan rencana penambangan karst dan pembangunan pabrik semen. Mereka geming, meski diteror dan ditaji politik adu domba. Semua demi satu alasan, sumber mata air Watu Putih tak boleh sirna.

“Ibu-ibu tetap semangat nggih. Jangan surut ya semangatnya. Gunung Kendeng harus diselamatkan bu ya.”

KBR, Jayapura - Gadis belia  itu nampak bersemangat. Tangannya lincah menekan satu persatu tombol ponselnya. Ditelinganya nampak terpasang earphone putih. Sambil menggerakkan tubuhnya, Ermin, gadis hitam manis berumur 20 tahun menyanyikan terus lagu dangdut kesukaannya.
“Setiap hari, pulang dari kebun pada pukul 14.00 WIT, saya tidak lagi mengerjakan apapun. Paling hanya makan siang dan kalau sempat bisa tidur siang juga. Kalau tidak, ya hanya mendengarkan musik dengan earphone atau  bersama teman-teman lainnya,” kata Ermin ketika ditemui di barak tempat tinggalnya di perkebunan sawit di Kampung Yetti, Kabupaten Keerom.

Like Us

Alamat

Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara
Jl. Utan Kayu Raya No. 68, Jakarta Timur, Indonesia
Tel: +(021) 859 03865, Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.