Jurnalis Warga Bantaeng Pendorong Transparansi Pemerintahan Desa

Sekretariat JW Desa Rappoa

Sekretariat JW Desa Biangloe

Sekretariat JW Desa Papanloe

Prev Next

Hajra, adalah perempuan muda yang selama hampir 2 bulan ini mengelola website jurnalis warga di desa Rappoa Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Website desa rappoa.id ini sudah ada sejak lama, namun dengan sekarang dikelola oleh jurnalis warga  (JW) maka keluhan warga, masukan untuk pemerintah desa, dikelola sendiri oleh warga. JW juga bisa menyampaikan keluhannya secara tertulis dan dibaca secara terbuka oleh masyarakat dan pemerintah desa.

Hajra bersama seorang anak muda lainnya, Lukman kerap bekerja, mengetik, mengedit naskah untuk rappoa.id di sebuah ruangan di kantor pemerintah desa.

Mulai Maret 2017 lalu, sejak program jurnalisme warga dimulai di kabupaten Bantaeng pemerintah desa menyediakan ruang khusus untuk JW bekerja.  Kemudian pada Mei 2017,  pemerintah desa memutuskan sebagian APBDesa digunakan untuk mendukung program jurnalis warga.  Keputusan ini dinilai penting sekaligus menunjukkan bagaimana pemerintah desa menunjukkan keterbukaannya terhadap warga. Dan posisi jurnalis warga adalah sebagai jembatan, penghubung keterbukaan ini.

Tak lama lagi para pegiat jurnalis warga akan menikmati bekerja dengan laptop yang diberikan oleh pemerintah desa. Kepala Desa Rappoa, Iwan Darwin menjamin bahwa tidak akan ada intervensi dari desa dalam pengelolaan tulisan, masukan, kritik dari JW. Laptop dan dana dukungan untuk JW ini diambil dari dana pengelolaan teknologi informasi dalam APBDesa 2017. Pada 5 Agustus 2017 nanti, akan ada pembahasan RPJMDes di Desa Rappoa, termasuk rencana pengembangan JW di desa ini juga akan dibahas dalam RPJMDes. "Buat kami pemerintah desa, perencanaan adalah hal penting dimana ini merupakan awal mula pelibatan masyarakat, memasukkan pelibatan masyarakat dalam hal anggaran menjadi titik awal pelibatan warga," ujar Iwan Darwin.

Kiprah jurnalis warga  ini terungkap dalam acara Launching Jurnalis Warga di Bantaeng yang diadakan Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) di Bantaeng pada Senin, 24 Juli 2017. Adalah Andi Sultan, koordinator jurnalis warga PPMN yang selama ini mengorganisir warga Bantaeng untuk menulis. Selain mengajak warga terutama para perempuan dan kelompok disabilitas menulis persoalan mereka, ia kemudian juga mengarahkan para jurnalis warga ini mengadvokasi kebijakan desa untuk keterbukaan informasi.  "Jurnalis warga menjadi model untuk jembatan informasi dan keterbukaan informasi ini,” ujar Andi. Program JW mendorong keterbukaan yang lebih banyak melibatkan warga desa, mengajak warga menulis, memberikan kritik, dan mengadvokasi anggaran untuk jaminan dan kebebasan suara warga desa.

Pada saat berjalannya acara Launching Jurnalis Warga Bantaeng tersebut, Diskominfo Kabupaten Bantaeng melalui Kabid Informasi dan Statistik, Iriantono berjanji akan memberikan waktu on air utk dikelola JW setiap hari Kamis selama 60 menit  di Radio Suara Pemersatu Butta Toa 100,6 FM.

Keterbukaan pengelolaan dana desa di Bantaeng tidak hanya terjadi di Rappoa. Selama ini pemerintahan desa di kabupaten Bantaeng memang sudah memasang papan informasi desa yang memuat anggaran desa sehingga bisa diakses langsung oleh masyarakat. Di Desa Papanloe, jurnalis warga juga sudah mempunyai sekretariat yang bertempat di Posyandu. Pada Senin kemarin, majalah dinding yang dikelola warga mulai dibaca oleh para perempuan yang sedang berada di Posyandu. Salah satu pengelola JW Desa Papanloe, Jabbal Nur menyatakan bahwa tempat di Posyandu ini sangat efektif untuk berkegiatan jurnalistik. Tak hanya banyak perempuan yang datang, Posyandu juga berada di samping sebuah Madrasah. Mereka kemudian juga bisa mengajak anak-anak sekolah untuk menulis.

Sedangkan di Desa Biangloe, warga sendiri yang menyediakan rumahnya untuk sekretariat kegiatan jurnalis warga. Zakir, salah satu pengelola JW di Desa Biangloe menyatakan, dengan adanya program ini, mereka bisa membantu masalah pendidikan warga. Karena JW di desa ini tidak hanya berfungsi untuk mengajarkan perempuan menulis, namun juga memberikan informasi soal hak pendidikan dan kesehatan bagi perempuan dan disabilitas yang harus diperjuangkan. Seorang perempuan yang hadir di sekretariat JW Biangloe menyatakan sangat senang terlibat disini. "Saya senang, jadi tahu banyak hal. Saya juga belajar dan bertemu banyak hal baru."

Kegiatan jurnalisme warga di kabupaten Bantaeng ini adalah bagian dari program KOMPAK bersama PPMN dan The Asia Foundation untuk isu pendidikan, kesehatan serta Pencatatan Sipil dan Statistik Hayati bagi perempuan dan disabilitas. Selain di Bantaeng, di wilayah Sulsel, program juga dilakukan di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan bekerjasama dengan Yasmib Sulawesi. PPMN juga mengerjakan program JW di Provinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat dan Aceh.