Image default
Jurnalisme Warga

Ketika Orang Rimba Mengenal Budaya Luar

Betuah mengucapkan bahasa Jawa dalam kalimat yang terbata-bata. Sejak menjadi penyiar Radio Benor FM, interaksinya lebih luas. Radio komunitas Orang Rimba ini juga diisi oleh penyiar dari pemuda desa yang berasal dari suku Jawa. Tak ayal, siaran menggunakan tiga bahasa: Rimba, Indonesia dan Jawa.

Orang Rimba dikenal sebagai komunitas yang hidup sangat dekat dengan alam, terutama hutan yang menjadi tempat hidupnya. Justru perbedaan pandangan dengan orang-orang diluar, membuat Orang Rimba belajar banyak hal. “Orang desa bilang hutan milik Tuhan, bukan milik Orang Rimba. Tapi sejak ada radio komunitas ini, jadi saling mengerti dan berbagi pengalaman. Orang desa masuk ke hutan, melihat kehidupan dan tradisi Orang Rimba, “ujar Pintak.

Setiap siaran radio, Pintak selalu menyuarakan persoalan yang dihadapi anak-anak muda Rimba. Orang desa sangat ingin tahu kehidupan Orang Rimba, sebaliknya dengan Orang Rimba, ingin tahu kehidupan di desa. “Biasanya Orang Rimba kirim SMS, menanyakan tentang kehidupan diluar, “jelasnya.

Beberapa anak Rimba mulai merasakan pendidikan formal di desa. Bahkan remaja Rimba bernama Beteduh, berasal dari rombongan Kedundung Muda, sangat piawai menulis puisi. Dia lulusan SMA 11 Kota Jambi dan  bercita-cita menjadi peneliti. Bahkan ketika sekolah, pernah menjuarai lomba baca puisi– sampai mendapat penghargaan sebagai juara kelas. 

Namun tak semua anak Rimba dapat beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan kehidupan di desa. “90 persen anak Rimba kembali ke hutan dan putus sekolah, “ujar Tengganai Kedundung Muda. Meskipun beberapa remaja Rimba memiliki semangat tinggi untuk sekolah di kota Jambi, bahkan di Pulau Jawa. “Sedih kalau anak jauh dari Rimba. Tidak bisa ketemu setiap saat, “ujar induk Emas yang anaknya belajar di Solo, Jawa Tengah.

Hutan semakin sempit dan kelangkaan pangan merisaukan Pak Tarif, Orang Rimba dari Air Hitam yang memilih hidup di desa. “Kalau ada lima anak Rimba mau sekolah sampai Perguruan Tinggi, saya akan biayai sampai lulus Sarjana, “tegasnya. Tarif merupakan contoh Orang Rimba yang sukses, memiliki berhektar-hektar lahan pertanian kacang, petai, sayur-mayur dan lainnya. Dia aktif dalam mengadvokasi persoalan Orang Rimba—selain kaya memiliki rumah yang besar dan sedang membangun toko yang menjual bahan bangunan seperti semen, besi dan lainnya.

Tapi sayangnya, tidak satu pun anak-anak Rimba antusias dan menerima kebaikan Tarif. Minat anak-anak Rimba untuk sekolah sangat rendah, bagi mereka dapat membaca dan menulis saja sudah cukup. “Banyak anak Rimba bersekolah, tapi ketika tidak mampu bersaing dengan orang di luar, mereka kembali lagi masuk ke Rimba, “ungkap Depati Kedundung Muda.

Artikel Terkait

Suara Kritis Jurnalis Noken Cilik

admin

Warga Petebang Keluhkan Lambannya Aliran Listrik bagi Masyarakat

admin

Jurnalis Warga Bangkitkan Kemandirian Ekonomi

admin

Tinggalkan Komentar