Image default
Jurnalisme Warga

Jurnalis Warga Bangkitkan Kemandirian Ekonomi

Novi Ardiwati, 39 tahun, meluapkan kegembiraannya di malam yang gerimis. Udara dingin berhembus, menemani ibu dua anak ini berbicara di radio komunitas Bung Tomo FM. Kota Banyuwangi tampak lengang, dan aspal hitam masih basah setelah diguyur hujan deras. 

Novi mengisahkan pengalamannya bertahun-tahun sebagai buruh migran di Singapura dan Hongkong. Bahkan dia pernah mengalami kekerasan verbal yang dilakukan oleh majikannya di Hongkong. Selama 7 bulan bekerja tanpa libur, mandi saja dibatasi cuma 1x sehari.

Pada 2013, Novi membatalkan niatnya untuk kembali menjadi buruh migran dan bergabung sebagai jurnalis warga. “Ibu sakit dan anak-anak yang buat berat untuk berangkat jadi buruh migran lagi, “ujarnya. Pengalaman sebagai buruh migran selama empat tahun, membuat Novi menepiskan keinginan untuk bekerja di luar negeri.

Lalu, Novi keasyikan cuap-cuap siaran di radio komunitas Bung Tomo FM, serta aktif sebagai jurnalis warga. Novi dapat mengekspresikan pemikirannya dengan bebas dan lebih percaya diri. “Sebelum ikut jurnalis warga, saya nggak bisa menulis berita dengan baik, dan nggak berani menghadapi orang-orang, “jelas Novi.

Kini, dia dapat menyuarakan persoalan perempuan, seperti bagaimana memberdayakan perempuan, meningkatkan ekonomi secara mandiri dan lainnya. “Yang jelas tambah ilmu, pengalaman, teman dan dapat berbagi cerita, “ujar Novi. Tak ayal, dia pun membagi tips khusus dari pengalamannya sebagai buruh migran, seperti menjadi TKW yang aman, meningkatkan kemampuan bahasa asing, ketrampilan rumahtangga dan lainnya. “Kalau buruh migran dianiaya majikan, harus melaporkan ke agen atau KBRI, “ujarnya.

Dulu, Novi membekali diri dengan beragam ketrampilan hingga bahasa Inggris, bahkan belajar membuat susu yang steril. “Ada standar gizinya, tidak boleh air mendidih dituang ke susu begitu saja, karena akan menghilangkan kandungan proteinnya, “ujar Novi. Dia ingin calon buruh migran memahami kondisi di luar negeri, sangat berbeda budaya, tradisi dan bahasanya. Kini, Novi memilih bisnis online dengan menjual beragam produk kebutuhan perempuan dan rumahtangga seperti  sabun, kosmetik hingga pupuk organik.

Radio Bung Tomo FM telah melakukan banyak advokasi terkait kasus-kasus buruh migran. “Beberapa kasus calon TKW diturunkan di gang dekat rumahnya dalam kondisi linglung, setelah dihajar oleh agensinya. Bahkan ada yang giginya rompal tiga, wajahnya bengkak dan cuma sembunyi, “jelas Indah Tukiman, penyiar cum aktivis perempuan Banyuwangi.

Sebagai radio komunitas yang mendampingi korban, juga berhasil memproduksi iklan layanan masyarakat dan talkshow terkait buruh migran—agar perempuan memahami hak-haknya sebagai buruh migran dan bagaimana bekerja di luar negeri dengan aman.

Sedangkan Yesi Aminati  di desa Temujuruh, kelabakan membagi waktunya sebagai jurnalis warga, penyiar radio komunitas Brit FM, berbisnis online dan pegawai lepas kelurahan. “Saya senang menulis berita. Biasanya saya kirim ke grup jurnalis warga selama satu tahun ini, “ujar Yesi.

Selain menulis untuk media online, majalah budaya dan siaran pada hari minggu di radio komunitas. Yesi menginformasikan beragam persoalan seperti keluarga berencana (KB), pertanian, imunisasi campak, penyakit yang menjangkiti warga dan lain sebagainya. 

Aktivitas Yesi sangat sibuk, bekerja sejak pagi jam 08.00 hingga 23.00 WIB, dia masih lembur. “Pusing saya, pesanan jahit jilbab dan baju banyak, distribusinya ke kota Banyuwangi. Selain jadi panitia program nasional sertifikasi di kantor kelurahan, “ujarnya.

Artikel Terkait

Kiprah Radio Benor FM Di Belantara Jambi

admin

JW Kayong Solidaritas Mendorong Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Gender

admin

Suara Kritis Jurnalis Noken Cilik

admin

Tinggalkan Komentar